ITB Mau Multikampus…

Desember 14, 2008

Dengan dasar pemikiran bahwa semakin lama semakin banyak saja orang yang ingin dan “mampu” belajar di ITB ini, dan keadaan dari kampus yang sudah tidak memadai lagi untuk terus menerus menambah jumlah mahasiswanya, maka tercetuslah ITB sebagai kampus yang multikampus…

ITB rencananya akan “buka cabang” di Jatinangor, gedung bekas UNWIM. Sampai saat ini yang saya dengar adalah akan ada beberapa fakultas atau sekolah yang dipindahkan ke sana. Namun hal ini malahan menjadi rebutan, sebab banyak sekolah atau fakultas yang ternyata ingin pindah ke sana, seperti SBM, SITH, Geologi, Geofisika dan Meteorologi. Semuanya tentu saja dengan alasan bahwa potensi lahan di Jatinangor dapat bermanfaat bagi keilmuan mereka.

Lalu ada lagi wacana yang mengharuskan mahasiswa tingkat I ITB, atau disebut TPB, yang akan dipindahkan ke Jatinangor. Mereka akan dibuatkan mess khusus di dekat sana.

Khusus mengenai mahasiswa TPB ini, saya sedikit kurang setuju. Sebab, hal ini malahan akan lebih mematikan dinamika dan hingar-bingar kampus Ganesha. Sesuai pengamatan saya, mahasiswa TPB selama ini memberikan warna tersendiri dalam setiap kegiatan kampus.

Alasan lainnya kenapa saya tidak setuju mahasiswa TPB dipindah ke Jatinangor adalah :

  1. Akan berkurangnya interaksi mahasiswa baru dengan angkatan di atasnya, yang lebih berpengalaman. Hal ini dikhawatirkan menghambat pengetahuan mereka mengenai kemahasiswaan. Saya yakin pusat kegiatan ITB akan tetap berada di Ganesha, oleh karena itu saya khawatir nantinya pengetahuan mereka tentang berbagai kegiatan kampus akan kurang. Hal tersebut berimplikasi juga pada berkurangnya kesempatan mereka berkegiatan di unit dan himpunan.
  2. ITB sudah memiliki mess khusus mahasiswa TPB yaitu di Kidang Pananjung dan Kanayakan. Nantinya mess ini akan diapakan?
  3. (Bercanda mode :D ) Kampus Ganesha nantinya semakin “Gersang”… Tak ada lagi senyum lucu dari mahasiwi TPB (gak usah dianggap alasan ini mah,,,)

Konsep multikampus memang memiliki dampak positif, namun banyak juga dampak negatifnya. Apakah anda sudah memikirkan bagaimana nasib unit-unit kesenian, olahraga, dan kajian kelak bila mahasiswa ITB “dibagi” ? Lalu nasib dari perjuangan KM-ITB ?? Dan yang cukup penting adalah, apakah ITB mampu menyediakan fasilitas standar yang memadai di dua lokasi kampus tersebut?? Kampus Ganesha saja saat ini cukup parah kondisinya bila mengintip pada sebutan “world class university” :lol:

Saran dari saya sebagai mahasiswa yang belum lulus adalah :

  1. Tetaplah buat ITB itu eksklusif saja, biarkan hanya 15000 orang yang dapat belajar di sana, namun lebih memerhatikan kualitas mahasiswa dan lulusannya.
  2. Lahan yang ada di Jatinangor dibuat sebagai LABTEK saja, misalnya ada LABTEK khusus biologi, meteorologi, geologi, dsb. Namun tetap para mahasiswanya belajar di Ganesha seperti biasa.
  3. (Bercanda Mode :lol: ) Kalau memang tetap ingin ada satu Sekolah atau Fakultas yang dipindah total, yah jangan SITH atau SBM. Kampus Ganesha akan semakin “Macho” saja jadinya tanpa dua sekolah itu. (Sekali lagi gak usah dianggap yang terakhir ini :P )

Entry Filed under: ITB, Kota Bandung, kuliah. Tag: , , , , , , , .

16 Comments Add your own

  • 1. Wijoyo Simanjuntak  |  Desember 14, 2008 at 8:06 pm

    barang gratisan dari pemda jabar…

    menguntungkan tp klo dipikir2 ntar bakalan turun kualitas ITB…

    ntar bakalan nerima mahasiswa lebih banyak dan ya gt deh…

    Balas
  • 2. purmana  |  Desember 14, 2008 at 8:23 pm

    Betul juga sih,,,

    Dengan mahasiswa sedikit saja saat ini, yang keteteran akademiknya sudah cukup banyak. Gimana kalo mahasiswanya banyak??

    Kalo jumlah mahasiswa ditambah saya rasa otomatis standard kualitas ITB pasti diturunkan,,,

    So???

    Balas
  • 3. yogie  |  Desember 14, 2008 at 8:26 pm

    itu masih mending…UGM mau nutup jalan kaliurang..trus “mencaplok” seluruh wilayah bulaksumur.. trus mau menjauh dr rakyat dgn membangun portal2 di sana-sini.. edan, gan!!

    Balas
  • 4. purmana  |  Desember 14, 2008 at 9:09 pm

    @ 3

    Kalo masalah pembangunan portal di sekitar kampus itu sih wajar sebagai bentuk otoritas kampus.

    Kampus idealnya tidak menyatu dengan lingkungan sekitarnya, harus ada batas yang jelas. Jangan seperti di UNPAD Jatinangor. Tukang Ojek di daerah sana sampai berani merusak rambu lalu-lintas di dalam kampus agar usaha mereka bisa jalan…

    Oh ya saya baru inget ada pepatah :

    ITB adalah laboratorium sosial terbesar dan satu-satunya di INDONESIA….

    Coba teman2 artikan maksudnya :D

    Balas
  • 5. nd1tz  |  Desember 15, 2008 at 5:28 pm

    apa siswa yang lewat jalur PMBP memang dikenai biaya yang tinngi ia??

    ada cara yang lebih mudah untuk mendapat formuilir?

    nditz.loprofile@yahoo.com

    ;)

    Balas
  • 6. anggriawan  |  Desember 15, 2008 at 9:24 pm

    ah, isu dari mana lagi ini??
    sumbernya dari mana ya pak??

    Balas
    • 7. purmana  |  Desember 16, 2008 at 5:12 am

      ah udah banyak beritanya Mas di koran dan internet. Coba cek aja.

      Di kalangan intern kampus juga udah banyak beredar melalui majalah2 kampus kok.

      Balas
  • 8. tika  |  Desember 26, 2008 at 4:20 pm

    tul banget!! biarlah ITB tetap menjadi kampus yang eksklusif…hehehe…

    Balas
  • 9. tika  |  Desember 26, 2008 at 4:21 pm

    kalo mau cek beritanya, baca boulevard 62. hehe

    Balas
  • 10. nd1tz  |  Januari 16, 2009 at 6:15 pm

    multi kampus
    brarti:

    - sarana blajar sekaligus bermain
    hahahahahaaa

    Balas
  • 11. saepudinaep  |  Februari 19, 2009 at 8:23 pm

    ikut comment ah.
    berhubung saya masih mahasiswa SITH(mikrobiologi2007), menurut pendapat saya jika SITH dipindahkan ke jatimangor, maka atmosfer akademik ganesha tidak akan pernah terasa kembali. Di dalm sebuah institusi, yang paling sulit untuk diciptakan adalah ATMOSFER AKADEMIK ini. Kampus lain boleh lebih mewah dan canggih daripada Ganesha, tapi atmosfer akdemik belum tentu lebih unggul.
    Disamping hal itu, mahasiswa SITH akan mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan jurusan lain, sebagi contoh, ketika saya tertarik dengan perihal MEOR, nah tentunya saya sebaiknya banyak berdiskusi dengan mahasiswa Teknik Minyak atau yang berhubungan dengannya. Belum lagi sistem Mata Kuliah yang dikeluarkan ITB sekarang(Minor dan Pilihan) akan sangat memberatkan.

    Balas
  • 12. pasukan  |  Maret 25, 2009 at 2:59 pm

    “ITB rencananya akan “buka cabang” di Jatinangor, gedung bekas UNWIM”

    Lo jangan bilang kampus BEKAS UNWIM….

    ANJING LO SEMUA…..

    Balas
  • 13. PLANOLOGI UNWIM 2000  |  Mei 24, 2009 at 1:15 am

    Anak ITB emang pintar tp anak unwim mah ngalarti da ari anu ngartimah pasti palalinter coy. bukan ITB yang mau buka cabang dijatinangor tapi unwim anu buka cabang di ITB COY…catat.

    Balas
  • 14. Apt Genep Salapan  |  Juli 8, 2009 at 9:33 pm

    Karunya teuing nasib Unwim, dianggap geus bubar tinggal urutna diparebutkeun ku mangkeluk itb. teungteuingeun pemprov. jabar kaniaya teh kabina-bina

    Balas
  • 15. FAPERTA 94  |  Juli 8, 2009 at 9:44 pm

    Kula mah ceurik euy ayeuna teh, welas ka para pendiri unwim, lantaran aranjeunna nyaah ka putra-putri jawa barat anu teu pati mampu boh waragad boh kamampuan akademi na, di unwim mah diurus, dibimbing kumaha carana supaya jadi palinter. atuh lamun teorina kurang pinter diusahakeun praktekna digenjot supaya parigel. Buktina rea anu barisa usaha mandiri teu ngandelkeun buburuh di batur.

    Balas
  • 16. sugih giri  |  Juli 24, 2009 at 2:22 pm

    SAYA MAHASISWA UNWIM…
    FAKULTAS PERTANIAN 2006…

    di atas ada yang menyebutkan “GEDUNG BEKAS UNWIM” kami masih eksis pak!! kita masih semangat memepertahanakan nama UNWIM,menurut anda unwim udah kritis, tapi menurut kami kita tengah bangkit!!!!melawan keterpurukan..

    TAU APA ANDA MENGENAI KONDISI UNWIM SEKARANG HAH…….!!!!!!!termasuk juga yang punya blog ini.. dan yang komentar di atas!!
    kami bangga menjadi bagian almamater UNWIM…di banding menjadi bagian ITB. sampai titik darah penghabisan pun saya tidak sudi menjadi bagian anda.
    jangan mentang2 punya tanganbesar lantas bisa merampas seenaknya saja.dengan mempengaruhi organ2 pemprov jabar supaya bisa mengakuisisi kami…
    sungguh cara yang kotor..
    dengan istilah membunuh kami pelan-pelan.
    saya cermati itu bukan tindakan kaum akademis. dan itu saya pahami sebagai preman intelek yang bisa mengambil alih wilayah kekuasaaan dengan kejahatan birokrasi.

    saya berpesan..apabila tidak tau apa2 mengenai UNWIM lebih baik diam saja.
    urus pekerjaan anda masing2.
    urus keluarga anda masing2.
    dengan anda memposting seperti di atas berapa orang dan berapa keuarga yang di rugikan dengan tindakan anda.
    kami belajar NORmal di unwim,lancar, tidak ada nuansa kampus ITB pada kegiatan sehari2 di kami.
    SEKALI UNWIM TETAP UNWIM……..!!!
    UNWIM HARGA MATI….!!!11

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Tulisan Terakhir

Terlaris

Kata Mereka

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

Yang Seru

Kategori

Arsip

Pintu Gerbang