I’M [not] GO-BLOG

Agustus 7, 2007 at 6:21 pm 77 komentar

Merebaknya penggunaan blog saat ini tentunya memberi berbagai dampak bagi kehidupan manusia, baik itu positif ataupun negatif. Yang perlu diwaspadai oleh kita adalah dampak negatif dari blog dimana hal itu selalu dilindungi oleh yang namanya kebebasan bicara dan mengeluarkan pendapat.

Di zaman yang serba modern ini dimana hak asasi menjadi alasan yang lebih kuat dari aturan agama tentunya setiap orang ingin memiliki hak untuk bebas berbicara dan berpendapat. Hal itu wajar, namun perlu diingat bahwa segala sesuatu yang kita perbuat tentunya harus dipertanggung jawabkan di hadapan Tuhan.

Saya sangat terkejut saat melihat berbagai tulisan yang dengan beraninya membahas hal-hal yang tabu dan rumit hanya berdasarkan akal-pikiran seorang manusia. Seperti adanya pendapat meragukan keadaan Tuhan, Menyamakan berbagai macam agama (pluralisme), Berbicara masalah agama tanpa mengedepankan dalil naqli. dan lain sebagainya. Apakah ini yang dinamakan kebebasan???? Ini bukan kebebasan, tapi sebuah kehancuran !!!

Kita telah gagal mengendalikan hawa nafsu kita sehingga kita lepas kendali dan berani berbuat terlalu jauh. Ingat kita ini bukan siapa-siapa, apa sih yang bisa kita banggakan? Semuanya tak ada yang kekal dan melebihi apa  yang dimiliki oleh Yang Maha Perkasa.

Banyak blogger yang mengagungkan kebebasan berpendapat. Mereka berdalih selain di blog dimana lagi bisa menuangkan ide-ide liar mereka?? Coba pikirkan mengapa mereka tidak berani mengungkapkan ide-ide liar mereka di depan umum? Jawabannya, karena mereka sendiri tahu bahwa ide dan pemikiran mereka itu salah!!! Karena merasa salah maka mereka takut dan akhirnya mencari pelarian untuk menulisnya di blog.

Saya-pun menganut paham kebebasan dalam blog saya, namun bebas dari apa?? Yaitu bebas dari aturan bukan dari norma. Apa itu aturan dan norma?? Singkatnya aturan itu sengaja dibuat dan bersifat memaksa sedangkan norma tercipta secara natural atau turun melalui wahyu dan bersifat mengikat. Intinya kebebasan itu boleh kita dapatkan namun dalam menggunakannya harus tetap didasari oleh ilmu dan sikap tanggung jawab.

Entry filed under: Manusia, sosial. Tags: .

Angkot-pun Akhirnya Mati di Tangan Motor. “Dunia Luar” Itu Tidak Ada.

77 Komentar Add your own

  • 1. hendra_ku  |  Agustus 7, 2007 pukul 7:46 pm

    hore, dapet pertamax lagi, kekekekeke🙂

    kebebasan hrs disertai dengan tanggung jawab jg and tetep respect other🙂

    Balas
  • 2. Rizma  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:07 pm

    Salam,

    Ma terpanggil gara gara trekbek nih,,😀
    setuju kok,, kalo kita tuh harus bertanggung jawab sama tulisan kita,, tapi masalahnya mas, setiap orang nulis itu ga bisa memenuhi keinginan semua pembacanya,,

    Ma bikin tentang poligami, dengan batasan hubungannya dengan obrolan antar cewe, dan kenapa orang sering memanfaatkan regulasi poligami sesuai syahwat, bukan tujuan asalnya,,
    Karena kalo emang orangnya mau nyari, mereka pasti udah banyak dapet info tentang dalil dalilnya,, dan Ma yakin kok kalopun Ma kasih ayat de-el-el, masih bakal ada berbagai komentar negatif tentang ayat yang dipergunakan sesuai hawa nafsu-lah, menuhankan akal lah,, liat deh di blog blog lain yang ngebahas poligami dengan ayat,, lagi lagi,, kalo bener bener niat lho,,

    Masalah ga berani ngungkapin ke depan umum masalah yang ditulis di blog,, mas harus mulai dari liat judul tulisan Ma, wong tulisannya diangkat dari bahan obrolan sehari hari kok,, artinya Ma membicarakannya di depan umum kan?

    Masalah tulisan Farid itu,, Ma yakin itu bukan meragukan keadaan Tuhan, tapi keprihatinan beliau dengan keadaan umat yang mencatut nama Tuhan untuk kepentingan pribadi,,
    Juga di tulisan Dana, dia menerangkan esensi dari tiap agama,, karena pada dasarnya tiap agama itu memang mengajarkan kebaikan dan bisa mengarah ke pemahaman mengenai keTuhanan,,

    Mas, kita emang forum bebas, bebas nulis, bebas baca, bebas komen,, jadi kalo emang kita lagi baca tulisan yang ga disukai, mas bisa langsung tutup aja tulisan itu, atau baca dengan seluruh kebencian, bisa juga juga tetep membaca dengan mind set ‘semoga ada manfaatnya’ dan dengan niat diskusi demi kebaikan bersama,, masalahnya yang kita tau sekarang ini terbatas, mana tau dari hal yang kesannya nyeleneh dan aneh itu, kita dapet banyak pelajaran baru,, atau mungkin ada options yang lain??😉

    Terima kasih udah baca tulisan Ma,,
    Salam,

    Balas
  • 3. purmana  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:15 pm

    Juga di tulisan Dana, dia menerangkan esensi dari tiap agama,, karena pada dasarnya tiap agama itu memang mengajarkan kebaikan dan bisa mengarah ke pemahaman mengenai keTuhanan

    Nah…!!! Itulah dasar dari pluralisme

    Balas
  • 4. Rizma  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:28 pm

    *sedih karena nulis panjang panjang yang dibahas cuma satu*😥

    Tapi mas, emangnya ga ada hal positif yang bisa diambil dari sana? mungkin dari sudut pandang Dana, emang begitu,, kenapa mas ga nanya dan diskusi sama dia,,

    belom tentu yang kita tau skarang ini bener kan?😉

    Sekali lagi nih rikues Ma,, bahas komen Ma jangan sedikit gitu dong,,

    Balas
  • 5. danalingga  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:34 pm

    hem…

    ada afa ini ?😯

    *senyum senyum di langit ke 7*

    Balas
  • 6. ninoy  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:50 pm

    *tepuk tangan dulu*
    hueeeeeeee gun -sok akrab- bagus banget tulisannya…singkat tapi ngena….saya sefikiran tuh ama kang gun enih…pokonya tulisannya bagus deh…🙂

    Balas
  • 7. purmana  |  Agustus 7, 2007 pukul 8:56 pm

    Sory donk Ma,,, jangan marah gitu…😀

    Tadi aku laper bgt, pengen makan dulu:mrgreen:
    Yuk ah kita lanjut lagi !!!!

    Dari tulisannya 049 (Farid), menurut saya yang salah adalah cara pandangnya yang seakan tuhan tak memiliki kuasa dan kekuatan untuk mengubah dan memerbaiki keadaan makhluknya yang kacau. Bahkan adanya keraguan bahwa tuhan itu memang tidak ada.

    Kalau tulisan Ma, kayaknya dah bisa diwakilkan penjelasannya pada comment2 saya di tulisan itu. Intinya saya kurang puas dengan alasan dari pernyataan bahwa setiap poligami pasti didahului dengan zina (selingkuh), saya rasa hal itu terlalu bersifat emosional dan tidak didasari oleh fakta yang kuat.

    Bila melihat tulisan yang aneh2 maka saya tidak tertarik untuk berdiskusi tetapi lebih tertarik untuk berdebat dengan harapan untuk menghapus ke-anehan itu.

    Balas
  • 8. jejakpena  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:06 pm

    Ahem. Apa ya, saya sih lihatnya di blogosphere ini kita gak bisa menyeragamkan semua ide dan pola pikir tiap orang. Suka tidak suka, terima tidak terima, biasa… ^^
    Menghargai ide, itu tentu lebih bijak.

    Kalau memang kita tidak suka atau merasa tidak nyaman, itu hak kita. Benar.
    Dan adalah hak orang -yang dengan idenya kita tidak setujui itu lalu kita bahas di blog kita misalnya- untuk mendapatkan tanggapan dan penjelasan dari kita. Karena apa? Istilahnya nih, kita membicarakan orang, lalu orangnya datang, terus, kita berusaha dong jelasin kenapa kita bisa tulis begitu.🙂

    Eh, sebenarnya itu terserah kita juga sih, cuma alangkah bijaknya kalau kita memberikan tanggapan, terlebih lagi mereka klarifikasi di rumah kita. ^^

    btw, salam kenal,😀

    Balas
  • 9. jejakpena  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:08 pm

    waaakss… udah ditanggapin rupanya😛
    (Maaf nih, komennya telat😛 )

    Balas
  • 10. Rizma  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:17 pm

    ga marah,, tapi nangiis,,😥
    *kenapa nih anak cengeng banget sih!!*

    Artinya mas blom baca bener bener tulisan di sana,, Ma percaya ada poligami ideal lho, dan mungkin masih ada yang kaya gitu, salah satunya di komentar Suluh di sana,, bener deh Ma percaya,,
    Tapi kalo poligami yang dipuntir dengan alesan daripada zina, selingkuh, atau apapun, udah keliatan jelas maksudnya apa kan?
    Emosional? jelas,, siapa ga kesel kalo peraturannya Allah dipake buat ngebenerin kelakuan kaya begitu,,? *Ma sih kesel*

    Mas mau fakta yang gimana? pengakuan kalo alesan utama dari poligami puntiran itu karena syahwat? Ma ga bisa kasih itu sayangnya,, abis bakal susah mintain tanda tangannya,,😛

    Bener lho,, kalo kita mencoba buka wawasan kita di sana,, bakal keliatan hal hal yang ga keliatan kalo kita lagi pasang kacamata negatif dari awal,, apa bener Farid ga percaya Tuhan? mungkin ga dia ga suka ngeliat Tuhan-nya didompleng makhluk yang mengatasnamakan ajaran agama??

    Masalahnya kita ga bisa nangkep keseluruhan maksud tulisan orang,, makanya ada fasilitas komen, buat nanya,, lagi lagi, mungkin aja sudut pandan lain itu ga seburuk yang kita kira lho,, bahkan banyak ilmu yang bisa kita dapat dari berbagai hal,,
    Tapi kalo emang ga ada niat buat pengen saling belajar sih, Ma bisa bilang apa?😉

    Sip,, tolong koreksi kalo ada yang salah, yak,,😀

    Balas
  • 11. Neo Forty-Nine  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:45 pm

    Oke oke saya datang…..

    Dari tulisannya 049 (Farid), menurut saya yang salah adalah cara pandangnya yang seakan tuhan tak memiliki kuasa dan kekuatan untuk mengubah dan memerbaiki keadaan makhluknya yang kacau. Bahkan adanya keraguan bahwa tuhan itu memang tidak ada.

    He he he. silakan persepsikan masing masing. silakan juga anda liat contoh ambiguitas di sini

    Balas
  • 12. imcw  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:52 pm

    setiap manusia melekat pada perbuatan yang mereka lakukan dan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat…baik yang mereka perbuat baik yang akan mereka dapatkan, buruk yang mereka lakukan maka buruk pula yang akan mereka terima…

    Balas
  • 13. Neo Forty-Nine  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:54 pm

    Banyak blogger yang mengagungkan kebebasan berpendapat. Mereka berdalih selain di blog dimana lagi bisa menuangkan ide-ide liar mereka?? Coba pikirkan mengapa mereka tidak berani mengungkapkan ide-ide liar mereka di depan umum? Jawabannya, karena mereka sendiri tahu bahwa ide dan pemikiran mereka itu salah!!! Karena merasa salah maka mereka takut dan akhirnya mencari pelarian untuk menulisnya di blog.

    Maaf, satu link lagi bisa?
    Bagian terbaik dari keberanian adalah kebijaksanaan
    Salah dan benar?
    Sekali lagi maaf, saya bukan mau menyombongkan atau pamer. Namun untuk urusan protes dan menuangkan ide “liar”? Sudah saya lakukan. Mentor mentor sayapun waktu mata kuliah agama Islam saya debat! Hasilnya? jawaban mereka seperti biasa…… Jangan menuhankan akal dn taatlah pada agama….
    Apakah berarti saya tidak taat pada agama???
    Fatwa Abu Farid Al Ahlul Jannah….Yang tau isi hatiku hanya aku dan tuhanku

    Saya-pun menganut paham kebebasan dalam blog saya, namun bebas dari apa?? Yaitu bebas dari aturan bukan dari norma. Apa itu aturan dan norma?? Singkatnya aturan itu sengaja dibuat dan bersifat memaksa sedangkan norma tercipta secara natural atau turun melalui wahyu dan bersifat mengikat. Intinya kebebasan itu boleh kita dapatkan namun dalam menggunakannya harus tetap didasari oleh ilmu dan sikap tanggung jawab.

    Boleh saya yakini komen saya ga bakalan dihapus? atau alamat saya ga dimutilasi?
    Terima kasih banyak jika iya.
    “Aturan” itu untuk dilanggar kok. Ngapain tuhan nyediakan aturan dan neraka kalau umatnya pada taat semua? mending juga DIA taruh di surga aja semua. atau bikin Malaikat lagi untuk nyembah nyembah tuhan.

    “Didasari ilmu dan sikap tanggung jawab”
    Saya berdasarkan pada apa yang saya ketahui saja. dan saya beranin bilang kalau tulisan saya tentang ‘matinya tuhan’ adalah sebuah karya sastra.

    “Tanggung jawabnya?”
    Saya ga akan menghapus komen atau trekbek, jauh lagi memutilsi ayat alamat.
    Saya juga akan tetap berusaha menanggapi komen yang masuk. meski mungkin bakalan ad hominem
    Terima Kasih….😀

    Balas
  • 14. Neo Forty-Nine  |  Agustus 7, 2007 pukul 9:56 pm

    Saya anggap artikel ini sebagai penghargan terhadap tulisan tulisan bogger ber”ide liar”.
    Makasih……….😆

    Balas
  • 15. Rizma  |  Agustus 7, 2007 pukul 10:03 pm

    *liat komen terakhir Farid*
    wah,, kalo gitu sih,, Makasiih,,:mrgreen:

    Balas
  • 16. Anggra  |  Agustus 7, 2007 pukul 10:16 pm

    Saya anggap artikel ini sebagai penghargan terhadap tulisan tulisan bogger ber”ide liar”.

    Dengan adanya tulisan ini menandakan bahwa ide2 liar tersebut tetap mendapat perhatian. Dan perhatian tersebut sama halnya dengan sebuah penghargaan.

    Teruslah menulis dan ramaikan suasana blog indonesia!!!
    (Wah bukan maksud provokasi nih mas,,)

    Balas
  • 17. dnial  |  Agustus 7, 2007 pukul 11:15 pm

    Mas, mas…
    Aturan dan norma itu nggak ada bedanya.
    Definisi norma:

    Norma dalam sosiologi adalah seluruh kaidah dan peraturan yang diterapkan melalui lingkungan sosialnya.

    Sangsi yang diterapkan oleh norma ini membedakan norma dengan produk sosial lainnya seperti budaya dan adat. Ada/ tidaknya norma diperkirakan mempunyai dampak dan pengaruh atas bagaimana seseorang berperilaku.

    taken from id.wikipedia.org

    Beda dengan angan2 anda tentang “norma”?

    Inti dari tanggung jawab (kalau buatku) adalah berani ngantem berarti berani diantem, atau lebih parah lagi, digebukin rame2. Jadi kalau dia udah tahu omongannya bakalan rame, dan dia tetep luncurkan, ya sudah haknya dia. Ntar kalau ada yang komen marah kayak anda, ya sudah, tanggung jawab dia. Di-anjing2-kan? Urusan dia sama yang menganjingkan, kalau dia nggak terima, ya kounter posting, atau kalau udah emosi wurdar (tawur darat). Kalau fitnah dan pencemaran nama baik? Laporin polisi juga bisa. Dan sang penulis harus siap untuk konsekuensi itu.

    Balas
  • 18. cK  |  Agustus 8, 2007 pukul 12:39 am

    cuma mau kasih tau, rata-rata postingan yang mereka bikin itu satir lho😀

    jadi kita mesti mikir dalem-dalem untuk memahami isi postingan tersebut. kalau ada yang salah tanggap, berarti mereka belum memahami maksud dari tulisan itu. CMIIW😀

    Balas
  • 19. Shelling Ford  |  Agustus 8, 2007 pukul 12:59 am

    sudah tau betul definisi dari pluralisme?:mrgreen:

    Balas
  • 20. Anggra  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:57 am

    Ah ini sih debat kusir !!!!

    Satu berpegangan pada Qur’an dan Hadist dan aturan2 baik sedangkan satunya lagi hanya berpegangan pada akal-pikiran dan hawa nafsu.

    Gak akan ada habisnya!!!!!

    Balas
  • 21. purmana  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:27 am

    [at]Neo Forty-Nine

    Sekali lagi maaf, saya bukan mau menyombongkan atau pamer. Namun untuk urusan protes dan menuangkan ide “liar”? Sudah saya lakukan. Mentor mentor sayapun waktu mata kuliah agama Islam saya debat! Hasilnya?

    Semoga bisa diikuti oleh blogger lain… dan tentunya kita harus berpikir kenapa pendapat-pendapat kita itu sulit diterima. Bila hal demikian terjadi maka ada minimal satu pihak yang benar2 salah.

    “Aturan” itu untuk dilanggar kok. Ngapain tuhan nyediakan aturan dan neraka kalau umatnya pada taat semua? mending juga DIA taruh di surga aja semua. atau bikin Malaikat lagi untuk nyembah nyembah tuhan.

    Ini adalah salah persepsi tentang fungsi dari peraturan. Ada beberapa fungsi sebuah hal yang memang diharapkan tidak digunakan diantaranya adalah pelanggaran pada peraturan. Memang saya setuju dg pernyataan bahwa aturan itu untuk dilanggar dan neraka-pun itu untuk ditempati. Namun apakah harus kita dan bahkan dengan sengaja melanggar aturan itu dan berlomba untuk masuk ke dalam neraka??

    [at]Neo Forty -Nine, Rizma, Anggra
    Minimal ada yang memerhatikan dan bisa diajak berdskusi dan berdebat demi kebaikan bersama.

    [at]Dnial
    Kalau masalah definisi aku tak percaya ama Neng-Wiki… soalnya itu terlalu singkat dan dibuat sederhana dengan tujuan semua lapisan masyarakat mengerti.
    Definisi yg saya buat-pun berdasarkan dari berbagai buku Sosiologi dan Kewarganegaraan.

    Tanggung Jawab bukan hanya sekedar pada manusia, namun pada Allah swt. Mungkin bila kita berdebat dengan manusia kita bisa menang dengan pikiran dan argumen kita, namun bila sudah urusannya dengan tanggung jawab pada Khaliq, apakah kita siap ???

    [at]CK
    Seburuk apapun tulisan pasti ada saja yang bisa diambil.
    Anda pernah baca tulisan orang2 Islam Liberal???? Mengenai ide2 Sekularisme, Pluralisme, Multikulturalisme, Multifaith education, pembahasan ayat2 Qur’an versi mereka… dsb.

    Di sana bagi orang awam mungkin akan terkesan bahwa tulisan itu benar dan bahkan wajib untuk dilaksanakan sebagai bagian dari ritual beragama. Tapi dibalik itu semua???? Bahaya besar mengancam.

    [at]Shelling Ford
    Saya telah membaca banyak buku, dan artikel mengenai bahaya pluralisme.

    [at]Anggra
    Yang benar pastilah menang…😀

    Balas
  • 22. Rizma  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:44 am

    *scroll up*
    uuh,, ditanggepinnya sedikit lagi,,😥

    Minimal ada yang memerhatikan dan bisa diajak berdskusi dan berdebat demi kebaikan bersama.

    Ma bingung,, di komen sebelomnya mas bilang…

    Bila melihat tulisan yang aneh2 maka saya tidak tertarik untuk berdiskusi tetapi lebih tertarik untuk berdebat dengan harapan untuk menghapus ke-anehan itu.

    Intinya mas mau ngajak diskusi bareng bareng buat saling belajar ato sekedar ngasih komen untuk ngebantah tulisannya?😕
    dua komen dari mas ini berlawanan lho,, atau Ma salah tangkep,,

    btw, Ini salah satu fungsi kolom komentar ini mas, buat nanya,, karena yang ketangkep sama orang mungkin beda sama yang dimaksud penulis,,🙂

    Seburuk apapun tulisan pasti ada saja yang bisa diambil.

    kalo gitu kenapa ga buat nyoba saling belajar?😕

    @ Anggra

    Satu berpegangan pada Qur’an dan Hadist dan aturan2 baik sedangkan satunya lagi hanya berpegangan pada akal-pikiran dan hawa nafsu.

    ga juga kok,, bukan berarti kalo di tulisan itu ga ditulis ayat ayat atau bahasa arab artinya kita ga mendasarkannya sama Al Quran kan? dan di tulisan Ma, udah Ma kasih link ke kumpulan ayat2 tentang poligami,, tapi penafsiran emang bisa beda,,
    Ulama yang levelnya udah tinggi bisa punya perbedaan pendapat? apa itu bukannya contoh adanya banyak perbedaan persepsi? dan lagi lagi,, kenapa ga saling belajar?

    Makasih,,😀

    Balas
  • 23. Rizma  |  Agustus 8, 2007 pukul 7:26 am

    Gyaa,, ada ynag kelupaan,,
    Ma tadi baru abis baca ulang komen komen yang ada di sana, dan nyari komen mas,,

    Sori… sori,,, abis link yg dikasih gak terlalu memuaskan ada yg cuma pake dalil aqli doank gak ada naqli-nya… (masa masalah agama gak pake dalil?) Terus ada yg dalilnya lengkap tapi pusing gak ngerti………

    (Kayaknya itu mah saya-nya yg bodo gak ngerti-ngerti :P)

    Artinya Ma udah ngasih dong link tentang dalil-nya, dan Ma ngelandasin sama itu juga,, masalah mas ngerti apa ngga? masa mau Ma lagi yang kena?😉

    Balas
  • 24. Foltaire  |  Agustus 8, 2007 pukul 9:41 am

    Wah, mas ini pro status quo, ya? Rasulullah dulu juga melakukan hal yang sama, kok, mas. Membicarakan hal yang tabu dan membikin pandangan yang dianggap nyeleneh😛

    Btw, agama lagi, agama lagi…😆 Main bola aja, biar rukun:mrgreen:

    Balas
  • 25. wedulgembez  |  Agustus 8, 2007 pukul 11:54 am

    semoga gw gak asal bicara…..hehehe

    Balas
  • 26. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 8, 2007 pukul 2:09 pm

    Ehmm…

    Apa bedanya dengan Menteri DPR yang seenaknya mengambil uang orang.

    Tapi bukan itu maksud saya.

    Selama tidak ada orang yang ‘seenaknya membuat tulisan’, maka tidak akan ada yang membuat perbuahan menuju kearah yang lebih baik ‘seenaknya’.

    Balas
  • 27. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 8, 2007 pukul 2:11 pm

    Mungkin memang banyak yang menulis untuk menyesatkan umat, tetapi mereka – mereka ini sebagian besar hanya ‘nyempil – nyempil’ di komunitas blogosphere. Sedangkan yang besar – besar itu biasanya menjalin kebenaran yang benar – benar terkait dengan kedailan.

    Balas
  • 28. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 8, 2007 pukul 2:16 pm

    Banyak blogger yang mengagungkan kebebasan berpendapat. Mereka berdalih selain di blog dimana lagi bisa menuangkan ide-ide liar mereka?? Coba pikirkan mengapa mereka tidak berani mengungkapkan ide-ide liar mereka di depan umum? Jawabannya, karena mereka sendiri tahu bahwa ide dan pemikiran mereka itu salah!!! Karena merasa salah maka mereka takut dan akhirnya mencari pelarian untuk menulisnya di blog.

    Btw, anda elu – elukan di titel blog anda “Tempatku Menulis dengan bebas”, apa itu tidak melanggar etika juga ?:mrgreen:

    Balas
  • 29. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 8, 2007 pukul 3:04 pm

    Ah, lupakan komentar saya di atas (yang ketiga), delete saja. sudah ad hominem, salah, terburu – buru pula.

    Hmm…😕

    Menurut hemat saya, kalau seseorang membahas / memasukkan agama dalam suatu bahasan, maka tidak akan ada yang menemukan kata ‘sepakat’ ataupun titik damai. Meskipun ada, tapi kesimpulan itu tidak akan pasti benar. Karena jawaban yang pasti itu hanya akan kita dapatkan di akhirat sana. Itu juga kalau untung, bisa kembali ke dunia.

    Kalau soal agama, memang banyak yang memakai keyakinan Islam. Tetapi karena banyak yang memakai ‘Islam KTP’ itu…banyak dari mereka yang tujuannya adalah menyesatkan umat Islam. Sehingga tidak sedikit dari korbannya yang meragukan keberadaan agama sebagai pemersatu umat (“Gara – gara agama ada perang, penghinaa, pembunuhan. Tuhan telah mati !” Mungkin itu maksudnya).

    Coba pikirkan mengapa mereka tidak berani mengungkapkan ide-ide liar mereka di depan umum? Jawabannya, karena mereka sendiri tahu bahwa ide dan pemikiran mereka itu salah!!!

    Jangan berpendapat mentah ah.

    Mungkin alasannya begini : Andai mereka tahu bagaimana jadi terkenal. Selama ini yang saya tahu adalah, membuat postingan yang tembusannya harus didapat kepada Presiden. Jadi jangan kira bahwa mereka takut salah.

    Ah, artikel perlu mendapat pengeditan tuh. Basisnya masih emosi.😀

    Balas
  • 30. purmana  |  Agustus 8, 2007 pukul 4:55 pm

    Tulisan bebas dan nyeleneh memang boleh… tapi bila keterlaluan (dan saya sudah bosan menjelaskan arti dari tulisan yang baik dan benar) itu tak layak untuk dipublikasikan.

    Buat DB, coba lihat tulisan2 yg saya link, atau lakukan blogwalking… banyak tulisan yg lebih emosional dan kacau dari tulisan ini.

    Kenapa anda hanya berkata bahwa tulisan ini yg harus di-edit??? Apakah tulisan ini tidak sesuai dg pikiran anda??? Saya-pun merasa banyak tulisan yg tidak sesuai dg pikiran saya… maka wajar kalau faktor emosi muncul sebagai bumbu dalam setiap tulisan.

    Saya tak akan menjilat ludah dengan mengedit tulisan ini, bahkan akan terus membuat tulisan2 seperti ini.

    Terima Kasih

    Balas
  • 31. Neo Forty-Nine  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:13 pm

    Sama dengan Ma
    Kok naggapinnya kurang lengkap? mana komen saya dikutip dengan mutilasi lagi?

    dan tentunya kita harus berpikir kenapa pendapat-pendapat kita itu sulit diterima. Bila hal demikian terjadi maka ada minimal satu pihak yang benar2 salah.

    Sulit diterima atau ga mau diterima? mislanya seperti yang saya tulis di blog saya tentang pacarab ga haram. apa mereka mau menerima?
    paling paling jawabannya sama….jangan menuhankan akal dan berpeganglah pada bla bla bla….

    Namun apakah harus kita dan bahkan dengan sengaja melanggar aturan itu dan berlomba untuk masuk ke dalam neraka??

    Gimana saya bisa bilang kalau mabuk dan judi itu haram pada anak saya? apa saya cukup berpatokan pada ayat?….
    saya kelak akan bilang pada keturunan saya bahwasanya DIA mengharamkan mabuk dan judi karena alasan kesehatan, buang buang waktu dan uang, dsb dsb. Semuanya sebagai tambahan…. kamu jangan mencontoh bapak ya nak… kan apa yang bapak terapkan itu salah, dan kamu sudah tau bahwa memang salah, jangan diikutin ya nak….”jadi bapaknya harus nyoba untuk tau”
    Masuk neraka? biar DIA yang tentukan kelak…mending juga nyoba sekali trus bisa menjelaskan dan mencehgah keturunan…..daripada nyoba tobat trus nyoba lagi…..akhirnya keturunan juga ikut nyoba tobat nyoba tobat………

    Plus, saya yakin kalau dah pernah nyoba, pasti bisa tabah membimbing agar yang lain bisa ga ikutan dan ikhlas memperbaiki yang udah ikutan……

    Balas
  • 32. Ternyata Semua Agama Sama « Sebuah Perjalanan  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:19 pm

    […] sedikit menjawab artikel purnama  yang tampaknya menyoal pluralisme versi saya dalam tulisannya I’M [not] goblog . Ya, inilah pandangan saya terhadapap agama agama sehingga tampaknya di sebut sebagai pluralisme. […]

    Balas
  • 33. Rizma  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:22 pm

    Kayanya Ma pasrah aja ya nunggu kapan komen Ma ditanggepin?😐
    *duduk di pojok nunggu tanggepan komen*

    Balas
  • 34. Nyonya Farid  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:43 pm

    #Ma
    sabar Ma…
    orangnya udah oflen kali…

    Balas
  • 35. Nyonya Farid  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:46 pm

    *nerusin baca komen*

    Balas
  • 36. watonist  |  Agustus 8, 2007 pukul 5:48 pm

    *pesen tempat duduk, mumpung belum rame😀 *

    Balas
  • 37. hendra_ku  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:10 pm

    wekekekeke,,,,
    hrsnya klo dah pada pinter² gini, negara kita harusbya bisa maju dan berkembang🙂

    hip hip HORE
    Semoga bangsa kita menjadi bangsa yang besar🙂

    lanjuuuttttttt

    Balas
  • 38. Shelling Ford  |  Agustus 8, 2007 pukul 6:23 pm

    yakin buku tentang pluralisme yang mas baca itu bener2 membahas definisi pluralisme secara obyektif?:mrgreen:

    salah/benar itu relatif, mas. kasarannya, makan babi itu salah menurut orang islam, tapi nggak salah buat yang bukan islam🙂

    sehubungan dengan tulisan di blog saya, mas sendiri tanpa sadar sudah melakukan apa yang saya bilang: kita menulis tentang suatu hal, jika ada orang lain yang tidak berkenan maka kita harus siap apabila ada orang lain yang membuat tulisan berupa konter-etek dari tema postingan yang kita angkat😀

    dan, saya memang siap dengan konsekuensi seperti ini. sangat siap malah. wong sudah terbiasa, hehehehehe…

    cuma saja, mas, kita tidak bisa memaksakan apa yang menurut kita jelek kepada orang lain supaya orang lain itu juga menilainya sebagai suatu kejelekan. selera orang beda-beda, mas. yang jelek buat mas, belum tentu jelek buat orang lain.

    koar-koar di blog sendiri tentang kejelekan tulisan orang lain seperti yang mas lakukan di blog mas sendiri, hal itu masih bisa diterima. tapi kalo mas teriak2 bahwa tulisan saya ngaco justru di blog saya, wadaw… sama aja kayak mas teriak2 menyebut orang bali itu ngaco di pulau bali sendiri. analoginya bisa ditangkap? resikonya dirajam massa, kan? makanya saya bilang kalo hal itu ga sopan, hehehehehehehe

    Semoga bisa diikuti oleh blogger lain… dan tentunya kita harus berpikir kenapa pendapat-pendapat kita itu sulit diterima. Bila hal demikian terjadi maka ada minimal satu pihak yang benar2 salah.

    menurut mas sendiri, pendapat mas seperti tulisan mas dan komentar mas di blog saya sejauh ini, seperti skrg, sulit diterima oleh orang lain atau tidak?😉

    Balas
  • 39. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 8, 2007 pukul 7:10 pm

    Saya tak akan menjilat ludah dengan mengedit tulisan ini, bahkan akan terus membuat tulisan2 seperti ini.

    Bukan, maksudku bahasanya. Masih mentah. Dibuat formal sedikit. Begitu.:mrgreen:

    ———-

    Yah, pokoknya ingat – ingat saja kata – kata ini, “Walaupun kita terdampar di lumpur kenistaan, masih ada malaikat yang mendampingi kita didalamnya.”

    Meski hampir semuanya negatif, masih ada sisi positif, meskipun kecil. Dan itulah biasanya yang akan melakukan perubahan.

    Balas
  • 40. purmana  |  Agustus 8, 2007 pukul 7:47 pm

    Duh hapunteun sadayana tos rada lami ngantosan simkuring… soalnya simkuring aya urusan di suarapelajarindonesia heula. Alhamdulillah ayeuna parantos rengse nyerat artikelna.

    [at]Rizma
    buat comment no.22, perkataan itu bukan untuk saya tapi untuk mereka yg memiliki ide2 liar tersebut… mereka seharusnya bangga karena masih ada yang memerhatikan. gitcu loh maksudnya. Kalo mengenai hal2 yang bisa diambil dari sebuah tulisan. Manfaat minimal yg bisa didapat adalah kita bisa tahu kalau tulisan itu salah.

    Kalo comment 23. itu sepertinya agak OOT, karena itu sebenarnya hanya masalah di antara kita berdua saja😳 (ngomongnya kaya di sinetron2 aja…:mrgreen: )

    [at]Neo Forty-Nine
    Ooooh begitu toh cara berpikir anda….🙄
    Tapi mengenai kalimat terakhir, dari mana anda bisa yakin????

    [at]Hendra_Ku
    Duh… di sini kayaknya panas banget ya…!!!
    Jadi pengen nangkring di kafemotor nih😀

    [at]Shelling Ford
    Saya yakin akan kebenarannya…
    Bila suatu masalah hanya dibahas melalui perspektif setiap orang maka hal itu tak akan selesai-selesai… Oleh karena itu dibuatlah aturan dan norma agama sebagai pedoman hidup kita…

    Untuk masalah babi,,, saya cuma bisa berkomen “bagiku agamaku dan bagimu agamamu….”

    Mengenai comment saya di blog anda, saya mohon maaf bila telah menyinggung anda. Perlu diketahui juga bahwa tulisan ini sebenarnya adalah reply dari tulisan anda juga loh…

    Lalu mengenai hal kebenaran tulisan ini… wallahualam,,,, hanya Allah yang Maha Pintar…

    Balas
  • 41. Rizma  |  Agustus 8, 2007 pukul 8:22 pm

    *ngebacain ulang semua komen Ma*
    yah gapapa deh ga ditanggepin semua,,🙂

    walah,, bahasanya itu lho,, sinetron sekalee,,😆
    tapi menurut Ma ga OOT, di salah satu protes mas di tulisan Ma itu karena Ma ga pake dalil kan, padahal Ma udah ngasih referensi ke sana,, artinya komplen itu gugur dong,, jadi masalahnya apa??😕

    *ngecek trekbek*
    kok trekbek dari Ma ga nyampe ya??😕 *bingung*

    @ DeBe
    Ma suka kalimat terakhir tentang optimisme DeBe,,:mrgreen:

    Balas
  • 42. purmana not purnama !!  |  Agustus 8, 2007 pukul 8:33 pm

    [at]DB
    Wah si-ujang mah,,, parantos ningal visi-misi blog ieu teu acan???

    Cik tingal heula, pasti anjeun ngartos kunaon bahasa nu dianggo di dieu rada heuras.

    Intina mah, lamun bade ningal tulisan simkuring nu rada sopan jeung nganggo basa Indonesia nu baik tur bener pan aya di suarapelajarindonesia.

    Nuhun ah, marangga sadayana….

    Wilujeung sumping di blog simkuring

    Balas
  • 43. Rizma  |  Agustus 8, 2007 pukul 8:35 pm

    buset ini basa sunda lemes,, Ma ga ngerti!!😐
    *OOT sejati*😆

    Balas
  • 44. Shelling Ford  |  Agustus 8, 2007 pukul 8:38 pm

    ah, saya nggak tersinggung, kok:mrgreen:
    dan, apa yg kita yakini belum tentu sama dengan keyakinan orang lain, lho…
    that’s it. semoga tersiratnya bisa nyampe, hehehehehe

    oh ya, tiap hal yg terjadi di sekitar kita – walaupun menurut kita bejat – pasti ada hikmahnya. kalo ternyata kita nggak bisa menangkap pesan hikmahnya, artinya kitalah yang patut dipertanyakan daya serapnya. Sekularisme, Pluralisme, Multikulturalisme, Multifaith education, bukannya nggak ada hikmah sama sekali yang bisa diambil di dalamnya. tergantung…semuanya tergantung. tergantung kita mau berreaksi atas hikmah yang mungkin tersembunyi, atau kita mau menutup mata.

    tapi memang, kalo kita merasa iman kita bakal goyah dengan hal-hal demikian, jauhi saja:mrgreen: hal-hal kayak gitu cuma ‘boleh’ buat orang yang sudah merasa yakin dengan kebenaran yang diyakininya. tameng dan penyaringnya harus kuat😀

    Balas
  • 45. Mrs. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 2:38 pm

    *kecewa, coz komen masku yang puangjang banget cuma dijawab dua baris, ngga njawab pula*

    Maaf, disini aku gak bermaksud memihak pada pihak tertentu (baca:pacar) coz, menurutku sendiri, my blog is my way…mo ngapain aja bebas. Mo bikin post segila apa juga silakan. Apalagi hanya sekedar mencurahkan pemikiran. Kalopun timbul sesuatu dari pemikian-yang-tercurahkan itu, ya itu konsekuensi logisnya. Wajar dan sangat sangat wajar ketika terjadi pro dan kontra ketika kita memutuskan untuk ‘memperlihatkan’ pemikiran kita pada orang atau khalayak, dan tentu saja kita harus siap untuk itu.

    Jangan langsung menJudge sesuatu itu benar atau salah. Tuhan nggak pernah menciptakan sesuatu tanpa manfaat.
    sebagai contoh, coba kamu liat makhluk berjudul Joe sejelek apapun dia, masih ada manfaatnya toh? bisa jadi tempat ejek ejek dia, ato malah bahan posting yang keren.

    Nah, aku jamin, abis ini trefikmu mesti naek.:mrgreen:

    ga ada sesuatu yang ga bermangpaat kan?😉

    Balas
  • 46. Mrs. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 2:42 pm

    oia, sesekali kita perlu menangkap ‘maksud lain’ dari pemikiran orang itu.

    gag mesti kalo saya bilang “aku pengen makan orang” itu beneran saya kepengen makan orang. itu bisa jadi hanya ekspresi kekesalan yang teramat sangat dan diandaikan sampek kepingin makan orang yang jelas tidak sehat dan mengandung kolersterol tinggi

    Buat Ma…yang sabar ya Sayang…

    Balas
  • 47. yo3d  |  Agustus 9, 2007 pukul 3:05 pm

    Kalau kalian memiliki iman dan taqwa yang kuat kepada Allah, maka saya yakin diskusi ini gak akan ada.

    Sudah-sudah, semuanya salaman yuk!!😀
    Kan gak nyampe 1 bulan lagi kita semua akan memasuki bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat.

    Balas
  • 48. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 4:09 pm

    Busyeeetttttt.

    ane nulis cape cape….. Coba anda fikir! Berapa kalori yang terbuang untuk menuliskan komen di sini, plus mata saya harus jalan jalan gara gara keyboard arab gundul diwarnet. harus delet huruf salah ketik. ditanggapin dua baris.

    Halleluya omitaba…..

    Ya sudah, daripada ad hominem.. saya anggap perselesaian diskusi. maksud saya perdiskusian selesai. anda tidak minat juga dengan diskusi. Bukan ad hominem kan? kan? kan?😀
    Heil Hitler!

    Balas
  • 49. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 4:12 pm

    Tapi mengenai kalimat terakhir, dari mana anda bisa yakin????

    Ya dari Radja. sebab kalau Orkes sakit hati dari Slank.

    *serius*
    Ya dari hati dan kenyataan dong…..saya sudah buktikan kok. karena saya ga suka menuliskan utopia tapi realita….

    Balas
  • 50. Mungkinkah Windows dan Linux Itu Homo??? « Generasi Biru  |  Agustus 9, 2007 pukul 4:25 pm

    […] saya atas sikap ini. Silakan…. Sementara untuk yang merasa bahwasanya tulisan saya adalah “ide liar” dan menyesatkan bahkan sampah atau tidak berguna? Silakan, saya juga udah malas debat soal itu. […]

    Balas
  • 51. purmana not purnama !!  |  Agustus 9, 2007 pukul 4:25 pm

    [at]Pasangan Suami Isteri Neo Forty-Nine
    Maaf bila kalian merasa tanggapan dari saya kurang panjang… kalian nampaknya suka yang panjang-panjang ya??:mrgreen:
    Saya mejawab singkat karena saya tak melihat akan banyak manfaat yg bisa diambil dg menanggapi komen tersebut. Karena pada dasarnya cara berpikir kita sudah berbeda, dan seperti kata…. *sroll up*…. di komen20, ini hanya debat kusir. Kedua pihak tak mau saling menerima.

    Diskusi bukan hanya berakhir sampai di sini… (walaupun harus diakhiri karena jatah 1GB/bulan dah habis😦 ). Yang jelas saya akan terus menulis tulisan2 yg mengkritik tulisan lainnya di masa depan.

    Assalamu’alaikum…😛

    Balas
  • 52. Mrs. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 6:13 pm

    sekalian Pamit
    :mrgreen:

    Balas
  • 53. Mrs. Neo Forty-Nine  |  Agustus 9, 2007 pukul 6:13 pm

    sory OOT

    lanjutin diskusnya

    Balas
  • 54. bangaip baru pulang kandang  |  Agustus 9, 2007 pukul 6:15 pm

    Saya suka topiknya. Dampak negatif dari blog. Dapat link ini dari bog neo-fortynine.

    Saya pribadi, memandang bahwa lebih banyak dampak positif blog daripada negatifnya. Tapi itupun jelas dapat dipertanyakan dan diperdebatkan lagi. Karena berdasarkan pandangan pribadi, jelas amat subjektif.

    Sekedar berbagi…, Dulu, ada siswa saya yang pandai sekali melukis kaigrafi Arab dengan menggunakan pena merek Parker. Saya yang amat menyukai dan berkecimpung dalam kesenian Islam, jelas terkagum-kagum.

    Namun, suatu hari, sekolah kami dikejutkan oleh seorang siswa yang mencoba merampok lalu menusuk leher temannya (karena menolak memberi uang Rp 5000 untuk membeli rokok) dengan pena yang tajam. Coba tebak, apa merek pena itu? Gampang, penanya bermerek Parker.

    Intinya, Parker, sebagai pena, dapat digunakan siapa saja. Untuk mencari kemuliaan atau bahkan kesengsaraan hingga kezaliman. Yang pasti, bukan Parkernya yang menjadi titik penentu. Melainkan pemakainya.

    Di tangan pemakainya, pena menjadi ‘hidup’.
    Di tangan penggunanya, blog juga menjadi ‘hidup’.

    Entah hidup untuk dicintai… atau malah untuk dibenci.
    Semuanya tergantung penggunanya.

    Haduhh, maaf Kang… Jadi ngeblog disini. Huehehe… Haturnuhun nyaa..😀

    BTW, kisah pena diatas benar-benar kisah nyata di sebuah Kampus di pinggiran JKT.

    Balas
  • 55. hendra_ku  |  Agustus 9, 2007 pukul 6:26 pm

    [at]48. Neo Forty-Nine

    HeiL HiTleR !!!
    Rot scheint die Sonne !!!

    [at]purmana not punrama
    kafemotol nyyoookkkk,,,,,,,,
    btw, udah bwat artikel ttng “airmata guru” yg di medan itu blom
    yg di suarapelajarindonesia???

    Balas
  • 56. hendra_ku  |  Agustus 9, 2007 pukul 6:55 pm

    [at]purmana not punmara
    jadi beli tigy revo gk?
    maap oot🙂

    hip hip HORE

    Balas
  • 57. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Agustus 10, 2007 pukul 11:12 am

    Cik tingal heula, pasti anjeun ngartos kunaon bahasa nu dianggo di dieu rada heuras.

    Nya teu nanaon, ngan lamun aya urang – urang anu aya diluhur ningal ieu topik, jigana mah moal salse yeuh….Cing tanggep.:mrgreen:

    Balas
  • 58. purmana not purnama !!  |  Agustus 10, 2007 pukul 10:34 pm

    [at]Mrs.Neo Forty-Nine
    Makasih atas kunjungannya…😀
    Kapan2 main lagi ke sini ya !!! Diskusi?? so pasti akan terus berlanjut… biar ramai dong.

    [at]Bangaip
    Wah ternyata ada juga hubungan blog ama pulpen PARKER ya bro…
    Emang sih. Segala sesuatu yang kita miliki itu terserah kita mau digunakan sebagai apa? Digunakan di jalan yang mana? Semua terserah kita masing2 sebagai pemilik.

    Namun kita harus siap menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Konsekuensi bukan hanya datang dari manusia. Tapi bagi mereka yang beragama tentunya percaya bahwa Tuhan akan senantiasa mengawasi makhluknya.

    [at]Hendra_Ku
    Duh sori baru dibales bro… lagi ngurus pengisian ulang jatah benwit untuk 1 bulan. Jd dlm beberapa hari trakhir gw jrg OL…

    Tigi Revo… kyknya susah nih dapetnya, soalnya kmaren pas nyobain di dealer kata babeh gw itu terlalu kegedean motor…!!!
    La iya… wong babeh aku tingginya cuma 160… sedangkan bagi aku sih sedeng2 aja tuh motor +/- 172cm… trus katanya nanti susah buat ngajarin adik naek motor… waaaaaa!!!!! Jadi aja tetep bertahan dg si unggas SUPRA X-125 taun 2005.

    [at]DB
    Abdi oge hoyongna tanggep ngan kumaha atuh… da mayar warnet teh mani awon pisan. Ieu oge nganggo acis ti tabungan kanggo meser ban motor.😆

    Eh manawi aya nu ngartos teu abdi nyarios naon sareng DB????🙄

    Masalah topik, ke we dilanjutkeun ku posting nu salanjutna. Ayeuna mah abdi keur rieut… mikirkeun kumaha tiasa meser buku textbook kanggo kuliah… mani arawon pisan duh…!!!

    HIDUP PERSIB…!!! (urang Bandung oge pan??)

    Balas
  • 59. Purmana  |  Agustus 10, 2007 pukul 11:34 pm

    Oh iya bagi semua…

    Kenapa saya seperti kurang tanggap dalam mengomentari tulisan ini. Itu semua karena saya merasa diskusi ini hanya akan membuang waktu saja… saya bukan mempertahankan diri dengan menganggap berbagai komen itu tidak penting (seperti yg diungkapkan oleh sebuah komen di salah satu posting Rizma… cari aja sendiri). Tapi sekali lagi bukan diskusi seperti ini yang saya inginkan…

    Ini sih hanya akan menjadi debat kusir. Analoginya bagaikan suku Asmat dan suku Dhani membicarakan mesin VTEC Honda…

    Balas
  • 60. no more drama! « just seat back and relax..  |  Agustus 11, 2007 pukul 5:19 am

    […] nulis comment itu gara2 baru liat judulnya,tanpa nge-click link post yang ini, yah pokoknya saya cuma pingin bilang kalo ada yang ga suka sama blog kita ya udah, biarin aja. eh […]

    Balas
  • 61. Iqro « Generasi Biru  |  Agustus 11, 2007 pukul 8:15 am

    […] tidak didasari dari hasil membaca secara lengkap, jauh lagi dari faham isinya. Sementara yang di sini. Katanya mau diskusi tapi begitu dilayani malah bilang diskusinya tidak berguna. Yang ini? He he […]

    Balas
  • 62. secondprince  |  Agustus 11, 2007 pukul 11:50 am

    Mas maaf blognya mau ku link boleh gak?
    salam kenal

    Balas
  • 63. ndutyke  |  Agustus 12, 2007 pukul 6:48 pm

    wah….telat!! yg punya blog udah pamit. yg nonton udah pada bubar😦

    sekedar mengutip kalimat seorang blogger *kedip2 mata ke purmana*
    “Blog ini adalah tempat untuk bicara bebas… apa yang terpikir langsung ditulis tanpa melihat dahulu aturan dan tata-cara penulisan…”

    kalimat diatas sebenarnya agak rancu, terutama pada penggunaan kata aturan. apakah kata aturan merujuk kepada tata-cara penulisan or disini, kata aturan yg berarti sama dengan “..aturan itu sengaja dibuat dan bersifat memaksa..” dari paragraf terakhir,postingan ini….

    anggap saja pengertiannya merujuk kepada yg kedua.

    well…well… andaikata semua blogger meng-amien-i bahwa blognya memang
    adalah tempat untuk bicara bebas… apa yang terpikir langsung ditulis tanpa melihat dahulu aturan dan tata-cara penulisan…, trus bagemana Pur?

    inti tulisan purmana ini bagus kok. mengingatkan kita semua untuk lebih berhati-hati dalam menulis. tapi saya juga tidak bilang bahwa point of view dan segala argumen Purmana sebage yg terbaek dan paling benar.

    saya yakin Purmana juga tidak bermaksud menjadi pihak yang terbaek dan paling benar, sesuai konteks tulisannya diatas🙂

    Balas
  • 64. sikabayan  |  Agustus 13, 2007 pukul 5:52 am

    beu… terjadi perdebatan agama disinih… sebaiknyamah diskusi sajah atuh… nanti bisa jadi haromi..

    Balas
  • 65. mentarihangat  |  Agustus 13, 2007 pukul 10:55 am

    assalamu’alaikum
    artikel yang bagus saya ancungi banyak jempol, kalau perlu pinjem tetangga saya. orang yang punya ide” liar ga perlu menuliskan tentang agama nulis yang topik lain aja. agama sudah diatur dan dibuat oleh Yang Maha Kuasa untuk ditaati.. aturan dibuat untuk ditaati kan?? bukan untuk dilanggar. ya.. udah kita kembalikan aja semua kepada Alloh SWT. teruskan mas purmono, kita sebagai umat muslim harus memperingatkan muslim lain agar tidak menelan mentah-mentah ajaran yang mengada-ada (sesat).

    Balas
  • 66. purmana not purnama !!  |  Agustus 13, 2007 pukul 7:13 pm

    Daripada pusing, yah lebih baik tinggalkan dan jauhi saja mereka-mereka ini. Yg penting saya telah mengingatkan kesalahan mereka, dan juga menunaikan kewajiban saya untuk berdakwah dan menyebarkan kebenaran. Kalau hasilnya,,, kita serahkan saja pada Allah s.w.t

    Balas
  • 67. Rizma  |  Agustus 13, 2007 pukul 8:14 pm

    eh buset ada nama Ma-nya di sono??😯
    emang komen apaan yak?😕

    Balas
  • 68. danalingga  |  Agustus 13, 2007 pukul 10:09 pm

    amin.:mrgreen:

    Balas
  • 69. AmruL  |  Agustus 14, 2007 pukul 1:13 am

    Sedikit landasan buat yang ngaku pluralisme/liberalisme :

    Info

    Balas
  • 70. agorsiloku  |  Agustus 16, 2007 pukul 6:38 am

    Banyak blogger yang mengagungkan kebebasan berpendapat. Mereka berdalih selain di blog dimana lagi bisa menuangkan ide-ide liar mereka?? Coba pikirkan mengapa mereka tidak berani mengungkapkan ide-ide liar mereka di depan umum? Jawabannya, karena mereka sendiri tahu bahwa ide dan pemikiran mereka itu salah!!! Karena merasa salah maka mereka takut dan akhirnya mencari pelarian untuk menulisnya di blog.
    —–
    Kebebasan berpendapat pada ujungnya diatur oleh kebebasan orang lain juga menyatakan pendapat. Yang kemudian kebebasan itu beradu dengan kebebasan yang lain dan mulai mengatur dirinya. Keliaran ide dikendalikan oleh kemungkinan orang menanggapi atau meninggalkan ide itu. Karena itu, dalam kebebasan ekspresi, pengendalinya adalah di luar diri kita, di luar kebebasan kita.

    Balas
  • 71. almirza  |  Oktober 17, 2007 pukul 7:41 pm

    oh begitu
    ramai juga disini
    maaf cuma numpang lewat aja

    Balas
  • 72. amra  |  November 11, 2007 pukul 4:02 pm

    Saya kasihan pada anda mas. Yang anda anggap tidak sepehaman dengan anda tentang dalil naqli anda anggap liar.

    SAya sungguh kasihan… banyak orang seperti anda, termasuk habib riziq dan FPI yang mengklaim segala tindakannya berdasarkan dalil naqli…

    Orang mengaku hidupnya berdasar dalil naqli kok bisa menjudge orang, tidak belas kasih.

    Jangan sampai ucapan dan amal sholeh anda lebih jelek dari yang anda anggap tidak paham dalil naqli yaa… nanti Allah marah besar namaNya, frimanNya anda bawa2 dan tidakan anad atidak mencerminkan SifatNya yang welas asih terhadap seluruh ciptaanNya.

    salam,
    Amra

    Balas
  • 73. purmana  |  November 11, 2007 pukul 7:44 pm

    @ Amra

    Welas kasihan bagaimana toh mas???

    Pemikiran2 berbahaya kok malah anda tolerir sih??

    Nah inilah kebodohan dan ketidakadilan. Kalo orang salah teriak-teriak dianggap wajar, kalo yang bener teriak sedikit langsung disuruh diem.

    Mau nyuruh saya gak nulis ginian lagi Mas…?? Percuma, emang sifat saya seneng berdebat dan adu urat otot.

    Balas
  • 74. rudy rushady  |  Mei 17, 2008 pukul 2:15 pm

    apakah anda menganggap norma itu wahyu n wahyu itu makanan apasih mas geowana

    Balas
  • 75. Iwan  |  Mei 20, 2008 pukul 11:43 pm

    Mas Amra……….
    Kalau FPI dan habib riziq itu, sepertinya mereka merasa mewakili Tuhn menegakan aturanNya, apa memang mereka sdh diangkat menjadi wakil Tuhan didunia, sehingga mereka merasa berhak menegakkan aturan Tuhan diduni dengan cara mereka. Dan……..Apa mereka berpikir bahwa Tuhan memerlukan Bantuan mereka untuk menegakkan aturanNya didunia??????????

    Balas
  • 76. Ropy  |  November 20, 2009 pukul 10:34 pm

    Pada dasarnya ajaran agama itu sama,mengajarkan nilai2 yang benar.Jangan pernah perbedaan agama membuat jurang bagi semua umat manusia

    Balas
  • 77. kimMey Mhemey IdarWt  |  Januari 12, 2013 pukul 3:07 pm

    kakak” slank …… kpan konser di ngawi jawa timur ????
    aku menunggu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: