“Dunia Luar” Itu Tidak Ada.

Agustus 8, 2007 at 9:30 pm 16 komentar

Bagi yang liat judulnya mungkin akan langsung beranggapan bahwa tulisan ini akan membahas tentang keberadaan manusia planet di luar angkasa nun jauh di mato. Tapi anda salah besar…..😀 Tulisan ini tak akan membahas hal yang sekompleks itu, tapi hal yang jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh sederhana.

Dari kenyataan fisik yang telah dibuktikan akhir-akhir ini, kita bisa menyimpulkan sebagai berikut. Segala yang kita lihat, rasakan, dengan, dan cerap sebagai “zat”,”dunia”, atau “alam semesta” hanya merupakan sinyal-sinyal listrik yang terjadi di dalam otak kita.

Orang yang makan buah tidak bertentangan dengan buah yang sebenarnya, tetapi dengan persepsi otaknya. Objek yang diperhatikan seseorang sebagai “buah” itu sebenarnya terdiri atas kesan elektrik dalam otak perihal bentuk, rasa, bau, dan tekstur buah. Jika syaraf penglihatan yang bergerak ke otak terserang mendadak, kesan buah itu akan spontan hilang. Terpuusnya syaraf yang bergerak dari sensor-sensor hidung ke otak selanjutnya akan menghapus rasa bau. Sederhana saja, kini buah itu ‘seakan’ tidak ada. Yang ada ialah penafsiran otak terhadap sinyal-sinyal listriknya.

Hal lain yang harus kita perhatikan adalah “rasa jarak”. Jarak, contohnya jarak antara anda dan layar monitor, ialah perasaan ruang yang terbentuk dalam otak Anda. Objek-objek yang yang tampaknya pasti jauh dalam pandangan seseorang juga ada di dalam otaknya. Contohnya, orang yang mengamati bintang-bintang di langit menganggap bahwa bintang-bintang itu jauhnya jutaan mil dari orang itu. Akan tetapi, yang ia lihat itu sebenarnya adalah bintang-bintang dalam dirinya sendiri, di pusat penglihatannya. Ketika anda membaca baris-baris tulisan ini, anda sebenarnya tidak ada di dalam ruangan yang anda anggap sendiri ada di dalamnya. Sebaliknya, ruangnya adalah dalam diri Anda. Penglihatan Anda tentang tubuh anda mendorong Anda untuk berpikir bahwa Anda ada di dalamnya. Bagaimanapun juga Anda harus mengingat bahwa tubuh Anda juga meerupakan suatu kesan yang terbentuk dalam otak anda.

Akibat dari rangsangan semu, alam luar seakan-akan benar dan nyata seperti yang nyata terbentuk di dalam otak kita tanpa keberadaan alam luar.

“Dunia Luar” yang tersaji untuk kita melalui penginderaan hanyalah berupa kumpulan sinyal listrik yang sampai di otak kita. Sepanjang hidup kita, otak kita memroses sinyal-sinyal ini dan kita hidup tanpa mengetahui bahwa kita salah dalam mengasumsikan ternyata hal-hal ini merupakan versi asli benda-benda yang ada di “dunia luar”. Kita tersesat karena kita tidak pernah dapat mencapai zat-zat itu dengan perantara indera kita.

Lagi pula, otak kita menafsirkan dan mengartikan sinyal-sinyal yang pada anggapan kita ada di “alam luar”. Contohnya, mari kita perhatikan indera pendengaran. Otak kita mengubah bentuk gelombang suara yang ada di alam luar ke dalam suatu simfoni. Katakanlah, musik juga merupakan suatu persepsi yang dibuat oleh otak kita. Dengan cara yang sama, ketika kita meliat warna, yang sampai ke mata kita hanyalah sinyal-sinyal listrik dari panjang-gelombang yang berlainan. Otak kita menubah bentuk siyal-sinyal ini ke dalam warna. Tidak ada warna di “alam luar”. Juga tidak ada apel yang berwarna merah, tidak ada daun berwarna hijau, dan tidak ada langit yang berwarna biru. Benda-benda itu begitu karena kita mencerapnya demikian. “Dunia Luar” sepenuhnya tergantung pada pihak penerima.

Kesimpulannya, alasan kita melihat objek-objek berwarna bukanlah karena objek-objek itu berwarna atau karena memiliki keberadaan material yang terpisah di luar objek itu sendiri. Kebenaran zat ialah bahwa semua sifat yang kita anggap berasal dari objek itu ada dalam diri kita dan bukan di “alam luar”. Jadi benarkah “dunia luar” itu ada?????😕

(sumber gambar di sini)

Entry filed under: IPTEK, Lingkungan, Manusia. Tags: .

I’M [not] GO-BLOG Hello everyone,,, I’m back!!

16 Komentar Add your own

  • 1. Shelling Ford  |  Agustus 8, 2007 pukul 9:39 pm

    habis nonton matrix ya? hohoho

    Balas
  • 2. Shelling Ford  |  Agustus 8, 2007 pukul 9:43 pm

    eh, bagaimana kalo sinyal-sinyal itu berupa konstanta?

    Balas
  • 3. purmana not purnama !!  |  Agustus 9, 2007 pukul 8:07 am

    [at]Shelling Ford
    Hoho… anda salah, wong saya baru makan duren kok..:mrgreen: (liat aja gambarnya,,,)

    Menurut saya tidak mungkin sinyal-sinyal itu berupa konstanta karena begitu banyak rasa, bau, warna, nada, dan tekstur yang bisa ditimbulkan oleh otak kita. Tentunya kesemua itu memerlukan banyak sinyal-sinyal yang berbeda satu sama lain.

    Balas
  • 4. Shelling Ford  |  Agustus 9, 2007 pukul 12:43 pm

    itu maksud saya, 1 sinyal 1 konstanta. misalnya pi, itu kan cuma salah satu konstanta aja. konstanta yg lain juga. bagaimana kita bisa menangkap 1 kesamaan kalo tidak berupa konstanta. bisa jadi sinyal itu yg konstanta atau malah sesuatu di otak kita yang jadi konstantanya😀

    Balas
  • 5. ninoy  |  Agustus 9, 2007 pukul 1:10 pm

    @_@ doh….gun…ini postingan apa ini? jadi sebenernya duren itu exist ga sih? eh bentuknya seperti apa aselinya? jadi pengen duren…tanggung jawab loh ngiler nih😛

    Balas
  • 6. purmana not purnama !!  |  Agustus 9, 2007 pukul 4:58 pm

    [at]Shelling Ford
    Yang lebih memungkinkan adalah bahwa satu sinyal memiliki suatu karakter khas (bisa disebut terdiri dari satu konstanta). Misalnya otak kita akan membuat sebuah bayangan merah ketika mata menerima gelombang cahaya dengan panjang tertentu. Dan otak kita akan menghasilkan nada do / C, saat telinga kita menangkap suatu gelombang cahaya dengan frekuensi tertentu.

    [at]Ninoy
    Duren kan cuma sebagai media pembantu aja…
    Bentuk apanya yg asli….??????
    Ngiler ya…:mrgreen: nanti tak postingin gambar duren lebih banyak lagi…😆 😆 😆

    Balas
  • 7. atmo4th  |  Agustus 10, 2007 pukul 3:30 pm

    Kalo gitu, pemikiranmu sama kayak si Wachowski bersaudara [ maaf kalo sala ] pembuat filmnya The Matrix Trilogi
    oh, ternyata udah ada yang nulis mas Shelling Ford..

    Jelas dunia itu ada, dimensi ruang.. Kan udah diciptain ma Tuhan kita,.. Kita gak hidup di diri kita sendiri. Kalo kita hidup di diri kita sendiri, harusya kita udah bisa manipulasi, dan membebaskan diri dari dunia ini dan mencapai tingkat ‘Tuhan’..

    Tapi enggak kan? kita hidup di tempat yang namanya bumi, tempat kita terikat aturan, aturan pencipta.

    Balas
  • 8. ninoy  |  Agustus 10, 2007 pukul 5:08 pm

    eh gun…jadi keingetan…kalo buat tunanetra itu gmn? dia nangkep apa pas meraba2 suatu benda untuk mengetahui bentuknya?

    Balas
  • 9. talkwithme  |  Agustus 14, 2007 pukul 9:54 pm

    sinyal listrik.nyentrum dong hehe
    ngomong2 soal durian,udah pernah makan dodol diurian asli jambi belum?beuh maknyus

    Balas
  • 10. nailah zhufairah  |  Agustus 16, 2007 pukul 1:14 pm

    kalo dunia lain????

    Balas
  • 11. deKing  |  Agustus 19, 2007 pukul 2:39 am

    Waduch..lama gak mampir sini…

    Objek yang diperhatikan seseorang sebagai “buah” itu sebenarnya terdiri atas kesan elektrik dalam otak perihal bentuk, rasa, bau, dan tekstur buah.

    Jadi ingat acara di Discovery Channel…
    Disediakan jus dari berbagai macam buah yang berbeda. Hidung dan mata para testee ditutup dan ketika para testee disuruh menyebutkan jus buah apa yang mereka minum ternyata semua testee salah menebak. Tetapi ketika hidung dibuka (mata masih ditutup) ternyata para testee dapat menebak dengan benar.

    Tapi uniknya ada satu jus yang bisa ditebak para testee walau dalam keadaan mata dan hidung tertutuo, yaitu jus bawang putih

    Balas
  • 12. deKing  |  Agustus 19, 2007 pukul 2:43 am

    Kebenaran zat ialah bahwa semua sifat yang kita anggap berasal dari objek itu ada dalam diri kita dan bukan di “alam luar”

    Yupz…
    Contohnya (maaf) kasus buta warna ya…
    Penderita buta warna memiliki kesulitan dalam mengenai warna bukan karena si obyek yang “salah” tetapi karena ada sedikit masalah dalam diri si penderita sndiri

    Balas
  • 13. Spitod-san  |  September 17, 2007 pukul 10:20 pm

    Kita tak bisa membuktikan “Dunia Luar” itu ada, tapi bukan berarti “Dunia Luar” itu tidak ada..

    Balas
  • 14. bakazero  |  September 28, 2007 pukul 11:34 pm

    wah konsep ini pernah daku dapet di bukunya harun yahya…
    (ga sempet baca semua sih… tapi konsepnya sama)

    bagus euy buat merenung…

    Balas
  • 15. dhanil  |  Juli 9, 2008 pukul 8:49 pm

    poko’e wenak

    Balas
  • 16. siska  |  Maret 21, 2009 pukul 7:37 pm

    ngomong2 coal durian uwenak ntu, lho suka g’?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: