Hidup di Bandung kok Gak Tau Bandung seeh ??

Februari 1, 2008 at 8:39 am 7 komentar

Tiap Hari Cuma Bolak Balik Kampus Kost-an

Jujur saya agak merasa sedikit kesepian setelah menjadi mahasiswa sebuah institut pendidikan di Bandung. Sewaktu saya SMP dan SMA lalu setiap pulang sekolah pasti kami bermain, entah itu main sepak bola di lapang PLN, main RO, DOTA, CS, atau sekedar jalan-jalan ke mall. Tak peduli apakah besok saya ada ulangan atau tadi baru saja mendapat nilai yang buruk.

Tapi keadaan kini sangatlah berbeda, di kampus saya sebagian besar adalah orang rantau yang memiliki kampung halaman nan jauh di sana. Atmosfer persahabatan di sini terasa lebih dingin ketimbang saat saya masih SMA dulu. Cukup sulit menjalin sebuah ikatan persaudaraan yang akrab dengan mahasiswa lain terutama dari daerah lain. Saat saya memerlukan teman untuk bertanya, semuanya sedang sibuk belajar sendiri, lalu saat saya perlu teman untuk bercanda, semuanya sudah pulang ke kost-an masing-masing. Jadi kapan waktu saya untuk bisa bersahabat dengan mahasiswa lain ???

Tulisan ini memang dibuat hiperbola, namun ini adalah gambaran yang tepat mengenai apa yang saya alami dan apa yang saya rasakan.

Saat Liburan Pulang Kampung

Saya tidak mempermasalahkan kerinduan mereka terhadap kampung halaman mereka, terhadap teman-teman masa kecil, dan pastinya terhadap sanak saudara. Tapi kenapa harus menghabiskan seluruh masa liburan di kampung ?…… Itu kan hak mereka !!…. Betul! itu memang hak mereka, tapi apa salahnya menyisihkan sedikit waktu liburan yang panjang untuk kita berkumpul, bercerita dan bercanda bersama.

Di saat kita akan mengadakan suatu acara, pasti saja ada yang tidak datang dengan alasan ini atau itu (bukan sakit dan urusan keluarga). Di saat kita sedang berjalan bersama pasti saja ada yang memisahkan diri dan berjalan ke arah yang lain.

Lalu Kapan Kita Ber-masyarakat ???

Pernah dengar suatu kalimat, “Mahasiswa ITB harus GAUL” ?? Itu adalah kalimat yang diucapkan oleh mantan rektor ITB sebelum Pak Joko. Nah, tentunya sebagai mahasiswa harus bisa mengartikan “gaul” dengan arti yang berbeda dan lebih elegan. “Gaul” di sini bukan berarti berpakaian necis, berambut stylish, pergi ke mall, cafe, dan diskotik. “Gaul” di sini adalah memasyarakat.

Kampus kita yang berada di Kota Bandung tentunya harus bisa memberikan sesuatu terhadap Kota Bandung itu sendiri. Agar kita bisa memberikan sesuatu yang memang tepat maka kita harus bermasyarakat. Lalu sekarang dengan pola hidup yang kita jalani, apakah kita sudah memasyarakat dengan warga Kota Bandung ??

Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh teman-teman saya di kampus kita tercinta, mari kita pererat lagi persahabatan kita, mulailah mengenal lingkungan tempat kalian hidup, dan tentunya cintai dan jagalah Kota tempat kalian menuntut ilmu ini.

Jangan sampai nanti kalian sudah 4 tahun berada di Bandung tapi tetap belum mengenal kota ini.

Entry filed under: kuliah, pengalaman pribadi. Tags: .

Budayakan Memakai Helm Walau Tak ada Polisi Kalahkan ITB dengan Semangat Anak SD !!!

7 Komentar Add your own

  • 1. mankarya  |  Februari 1, 2008 pukul 9:40 am

    loha
    be te we lam kknall yaw

    Balas
  • 2. purmana  |  Februari 1, 2008 pukul 10:02 am

    Salam Kenal Juga😀

    Balas
  • 3. gaw  |  Februari 1, 2008 pukul 1:57 pm

    apa gw senasib ma kmu? yah walo kampus gw ada di kabupaten bandung, ternyata sulit mendapat teman untuk mengenal kota bandung (saya bukan anak kostan, *bisa jadi judul film nih).

    klo masalah kenal kota bandung? wah masa gw ga kenal, btw salam kenal

    Balas
  • 4. deethalsya  |  Februari 1, 2008 pukul 4:43 pm

    duw..😯
    *tertohok*

    dt skrg hidup di Medan tp gak tau2 bgt Medan nih..
    aiihhh..😦
    *tragis emang nih, eh tp koq jd curhat yah??! he5x..*

    Balas
  • 5. ardianto  |  Februari 3, 2008 pukul 9:41 am

    Itu sih langkah pertama saya dari awal..
    Kenalan sama tetangga biar akrab..
    Teman yang bisa diajak ngobrol banyak..
    Mengenal Bandung?
    Hmm…
    Udah pernah naik (hampir) semua angkot di Bandung…
    Naik kereta Cicalengka-Padalarang yang tiketnya cuma 1000 itu..
    Kesasar di Cimahi dan Parongpong..
    Jalan kaki dari Cisitu-Sukajadi, Cisitu-ITB-Cisitu lagi-ITB-Stasiun juga udah pernah..
    Gyahahaha…

    Balas
  • 6. takochan  |  Februari 3, 2008 pukul 4:18 pm

    Jaaaahhhhhh, menohok *pecinta GPK (gerakan pulang kampung) asli*:mrgreen:
    Saya sendiri sudah hampir 4 taun di Padang, tapi masih sering nyasar😳
    Tergantung kecintaan pd kotanya sendiri kali ya, atau terikat dimana hatinya. Lagian, rumah itu adalah tempat dimana hati kita berada *ngawur*😆

    Balas
  • 7. puput nomundi  |  Februari 19, 2008 pukul 3:41 pm

    Awalnya aq juga kayak kamu sih. Tapi dengan sedikit SKSD, bisa kok dapet temen banyak. Sering2 nyapa mereka aja, lama2 mereka juga bisa akrab ama kamu. Sebenarnya jauh di lubuk hati mereka juga butuh temen kok….hohohohoho

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: