Sedikit Tanya Bagi Pencinta Lingkungan

Februari 8, 2008 at 9:17 pm 19 komentar

Gerakan Penyadaran Semakin Banyak, Tapi yang “Tidak Sadar” Lebih Banyak

Permasalahan lingkungan memang telah menjadi obrolan hangat di sekitar kita. Mulai dari isu global warming yang disinyalir karena meningkatnya pelepasan gas Karbon ( C ) yang berlebihan ke udara yang berasal dari sisa pembakaran fosil, lalu masalah penggundulan hutan, banjir perkotaan, meluapnya sungai (contoh Bengawan Solo), masalah sampah, masalah kantung plastik, dan lain sebagainya.

Telah banyak tindakan dan gerakan yang menghimbau masyarakat untuk menjaga lingkungan. Kita ambil contoh gerakan Bike to Work, Anti Plastic Bag Campaign, Bring Your Own Bag (BYOB), dlsb. Tak ada salahnya bila kita lihat data dari jumlah penjualan mobil baru yang mencapai 400.000 unit pada 2007 lalu, dan penjualan sepeda motor yang bahkan mencapai angka 4,8 juta unit pada tahun yang sama. Lalu mungkin semakin banyaknya supermarket dan pasar yang berdiri dan secara langsung akan menghasilkan sampah plastik yang semakin banyak pula. Pertanyaan saya adalah; Lebih cepat mana gerakan penyadaran lingkungan dengan tindakan merusak lingkungan ?

Maksud saya adalah lebih cepat mana pertumbuhan jumlah orang yang tersadari dirinya akan pentingnya menjaga lingkungan dengan orang yang tidak/belum sadar akan lingkungan. Karena melihat dari sangat sedikitnya jumlah orang yang beralih memakai sepeda ketimbang jumlah orang yang membali mobil atau motor baru maka saya agak pesimis bahwa gerakan-gerakan semacam ini akan berhasil.

Sadar Lingkungan Bukan Berarti Harus Balik ke “Zaman Batu” kan ??

Sebenarnya saya sedikit sebel dengan solusi-solusi yang dikemukakan oleh banyak orang yang menamai dirinya “Aktivis Lingkungan”. Coba pikirkan kembali solusi yang mereka buat seperti menggunakan sepeda ke kantor atau sekolah atau berarti tidak menggunakan mobil atau motor, lalu membawa kantong plastik ke supermarket, dan membawa gelas sendiri ke cafe. Mungkin dua solusi yang terakhir disebutkan bisa dimaklumi walaupun agak berat dilakukan. Tapi mengenai solusi untuk lebih menggunakan sepeda saya rasa itu bukanlah solusi yang terlalu bagus, itu hanya sebuah solusi yang hanya menunda masalah bukan menyelesaikan masalah. Kenapa ?? Karena orang semakin membutuhkan alat transportasi modern dan kita tidak bisa menyalahkan keinginan mereka untuk membeli dan menggunakan kendaraan bermotor.

Lalu mengenai masalah plastik sendiri, yang sebenarnya dibenci itu kan bukan plastiknya, bukan pula kegunaan dan manfaatnya tapi yang dibenci adalah sifatnya yang sukar terurai dan proses pembuatannya (yang katanya) memerlukan minyak bumi yang setara dengan menjalankan mobil sejauh 4 meter untuk membuat satu kantong plastik ukuran sedang. Sungguh suatu pilihan berat tentunya untuk menggunakan plastik, namun mengingat sifat dan kegunaannya maka tidak ada pilihan lain selain tetap menggunakan kantong atau botol plastik lagipula belum ada bahan yang bisa menggantikan fungsi dan kenyamanan kantong plastik secara “utuh”. Solusi yang diberikan mengenai kantong plastik saya kira hanya membuat repot saja dengan membawa kantong sendiri ke pasar atau swalayan.

Apakah Cukup Hanya dengan Menyindir ???

Kebanyakan para aktivis dan gerakan lingkungan hanya bisa menyindir kebiasaan masyarakat (menyindir sama saja dengan menghina namun dengan sedikit modifikasi dalam diksi dan susunan kalimat). Contoh kalimat yang menyindir yang saya dapat dari sebuah blog lingkungan;

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita harus merasa malu untuk menenteng kantong belanja sendiri? Takut dilihat dan ditertawakan orang? Malah kita harus menertawakan mereka yang tidak mengerti akan pentingnya lingkungan dan kurangnya kesadaran untuk mengurangi sampah.

Apakah mereka (para aktivis) tidak sadar bahwa ada saja orang yang akan merasa sedikit benci dengan kata-kata itu. Tidakkah mereka sadar bahwa mereka telah melakukan sebuah metoda pendidikan yang salah yaitu dengan cara menghina. Itu bukanlah sesuatu yang bijak untuk mengajak seseorang ke jalan benar.

Lalu bagaimana cara yang benar ? Sebeanarnya saya pun sama dengan kalian yaitu belum mampu menemukan solusi yang tepat. Namun saya berpendapat di sinilah IPTEK harus berbicara. Kita harus bisa menciptakan suatu produk yang aman bagi lingkungan tanpa harus mengkebiri kenyamanan masyarakat untuk menggunakannya.

Saya kira masyarakat kini lebih membutuhkan solusi yang lebih nyata yang dapat menyelesaikan masalah bukan solusi yang hanya menunda masalah ditambah solusi tersebut malah memberatkan mereka. Itu semua karena tak setiap orang memiliki waktu untuk banyak memikirkan tentang permasalahan lingkungan. Mereka hanya menggunakan sesuatu yang sudah ada, itu saja.

Entry filed under: Lingkungan, Manusia, Otomotif, sosial. Tags: .

Saya Datang Kepagian atau Mereka yang Kesiangan ?? Masih Kecil Udah Nyanyi Cinta-Cintaan…

19 Komentar Add your own

  • 1. azkaa,,  |  Februari 8, 2008 pukul 11:18 pm

    kayaknya saya termasuk yang belum peduli pada lingkungan deh.. padahal ngakunya anak pencinta alam.. saya paham ada banyak hal yang bisa dilakukan -minimal dari diri sendiri- untuk turut berperan menyelamatkan bumi, tapi angger we, belom ngelakuin hal-hal tersebut.. abis rata-rata bikin hidup gak praktis..
    padahal ada kata-kata yang saya suka;
    kita bukan mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tapi meminjamnya dari anak cucu kita..
    yayaya, bicara memang selalu lebih mudah..

    Balas
  • 2. azkaa,,  |  Februari 8, 2008 pukul 11:19 pm

    kayaknya saya termasuk yang belum peduli pada lingkungan deh.. padahal ngakunya anak pencinta alam.. saya paham ada banyak hal yang bisa dilakukan -minimal dari diri sendiri- untuk turut berperan menyelamatkan bumi, tapi angger we, belom ngelakuin hal-hal tersebut.. abis rata-rata bikin hidup gak praktis..
    padahal ada kata-kata yang saya suka;
    kita bukan mewarisi bumi dari nenek moyang kita, tapi meminjamnya dari anak cucu kita..
    yayaya, bicara memang selalu lebih mudah..

    Balas
  • 3. ranywaisya  |  Februari 9, 2008 pukul 8:57 pm

    Menciptakan suatu produk yang aman tentu saja membutuhkan waktu yang lama karena butuh diuji dari berbagai aspek…
    Jadi sebelum produk yang aman itu ada/terciptakan…sebaiknya kita melakukan pelestarian alam saja terlebih dahulu.

    Balas
  • 4. purmana  |  Februari 9, 2008 pukul 10:53 pm

    @ Azkaa,,
    Ya,,, saya pun merasa sedikit ribet untuk mengikuti berbagai solusi yang ada. Kalau lagi sadar baru bertindak. Tapi kalau lagi khilaf sih ya berbuat seenak hati aja.

    @ ranywaisya
    Betul yang anda katakan. Di sini saya hanya ingin mengingatkan bagi mereka yang mengaku aktivis dan pencinta lingkungan untuk selalu membuat solusi yang semakin modern bukan hanya solusi-solusi “kuno” saja. Kita tak mungkin dapat menyelesaikan masalah kalau solusi yang diusulkan hanya itu-itu saja.

    Balas
  • 5. maxbreaker  |  Februari 10, 2008 pukul 10:52 am

    saya tawarkan sebuah solusi, kurangi jumlah kendaraan bermotor dengan oplos bensin:mrgreen:

    Balas
  • 6. Hermansyah  |  Februari 10, 2008 pukul 12:25 pm

    “….Itu semua karena tak setiap orang memiliki waktu untuk banyak memikirkan tentang permasalahan lingkungan. Mereka hanya menggunakan sesuatu yang sudah ada, itu saja…….”

    Setuju !
    Saya juga beli motor karena kebutuhan. Masa bodoh motor itu mau lulus EURO 2 atau tidak. Yang penting motor itu bisa dipakai bekerja dan membantu mencari rezeki. Banyak orang yang gak mau pusing tentang masalah lingkungan. Termasuk gw. (hehe)

    Beli tahu tempe aja udah bikin pusing apalagi mau pusing-pusing mikirin pencemaran udara akibat motor gw.

    Balas
  • 7. atmo4th  |  Februari 11, 2008 pukul 10:02 am

    pusing dengan segala tetek bengek lingkungan, kita tidak memikirkan kelangsungan bumi. kalau begini terus akhir zaman bisa-bisa ada di generasi kita,,

    hmm,, mungkin jawabannya teknologi baru.

    namun, terlalu banyak masalah bagi kita, jangankan untuk mencari teknologi ramah lingkungan, untuk memenuhi kebutuhan saja sulit.

    masalah penggunaan sepeda,, ya ku setuju dengan kamu geo,,

    Balas
  • 8. BLOGIE  |  Februari 11, 2008 pukul 8:21 pm

    “Berkata-kata sudah basi, saatnya beraksi”

    ngutip slogan batagor.. hhee..😀

    Balas
  • 9. Goenawan Lee  |  Februari 12, 2008 pukul 8:39 am

    Mbuh, aksi-aksi pun yang udah dilakukan, kebanyakan ndak mem”bumi”.😛

    Balas
  • 10. Cynanthia  |  Februari 12, 2008 pukul 5:39 pm

    Saya sendiri merasa ada yang rancu sama kampanye anti kantong plastik itu…

    Lalu pake apa? Kantong kertas? Bukannya itu malah bikin pembabatan hutan tambah cepat?😕

    Transportasi tidak bisa dihindari, kalo menurut saya baiknya:
    1. Bikin kendaraan ramah lingkungan
    2. Kendaraan pribadi ditekan, kendaraan umum diperbanyak
    3. Pelihara tuh pohon!😛

    =====================================================================
    reply: Kendaraan umum diperbanyak??? Bukannya sekarang angkot aja udah pada kosong tuh ??? Kalo diperbanyak lagi gimana macetnya Bandung ya…

    Balas
  • 11. Om Bram  |  Februari 12, 2008 pukul 6:38 pm

    Masa beli Bakso dibungkus sama kantong kertas…..

    Wakakakakakkakkkk

    Balas
  • 12. sayru  |  Februari 13, 2008 pukul 12:52 am

    walau bagaimanapun bumi akan kiamat, saya sangat optimis bumi ini akan semakin parah, dan menurut saya manusia tak bisa memberikan solusi untuk dampak teknologi yang diciptakan, selama sang pencipta teknologi memisahkan diri dari peranannya sebagai mahluk bumi yang sebenarnya memegang peranan penting dalam kelangsungan hidup di bumi. kita hanya bisa berusaha untuk sedikit memperlambat waktu hancurnya bumi dengan berperan semampu kita.
    sepakat dengan BLOGIE “SAATNYA BERAKSI”, mari kita mulai dari suatu yang kecil dan mudah. jadikan orang-orang terdekat kita sadar lingkungan.
    silahkan kirim pendapat anda tentang pemikiran saya di alamat: sayrudmk@yahoo.com

    Balas
  • 13. Spitodsaurus Rex  |  Februari 13, 2008 pukul 11:11 am

    Mau gimana juga, memang masyarakat luas tidak mau menyulitkan diri sendiri. Saya setuju sama kamu, yang diperlukan adalah inovasi yang membumi.

    Balas
  • 14. Green Lover...  |  Februari 14, 2008 pukul 1:33 pm

    Mungkin sekarang kita hanya bisa membuat solusi-solusi praktis dan sederhana. Tapi bukankah itu lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa.

    Masalah lingkungan adalah sesuatu yang kompleks yang tidak bisa diselesaikan dengan satu tindakan yang cepat. Tetapi harus diselesaikan melalui sebuah proses yang panjang. Dan kita yakin bahwa yang kita lakukan adalah awal dari proses panjang tersebut.

    =============================================================================================
    reply: Duh Mas… saya sih rakyat biasa, kagak ngarti masalah2 lingkungan. Dan orang yang kaya saya tuh buanyaaak banget loh. Jadi biarkan para ahli meneliti dan para aktivis mengajak masyarakat gitu lah prinsip orang-orang biasa kaya saya ini… saya bukan tidak peduli dan tidak melakukan apa-apa terhadap lingkungan, hanya saya melihat perkembangan yang lambat terhadap usaha penyelamatan lingkungan yang dilakukan oleh para ahli dan aktivis lingkungan khususnya di Indonesia… dan mungkin kurang diterapkannya IPTEK dalam usaha penyelesaian masalah ini.

    Balas
  • 15. calonorangtenarsedunia  |  Februari 15, 2008 pukul 2:10 pm

    usaha mereka patut dihargai, mungkin kita mengingatkan untuk berkampanye dengan cara yang lebih mendidik.:mrgreen:

    Balas
  • 16. puput nomundi  |  Februari 19, 2008 pukul 3:25 pm

    agak gak nyambung sih. Tapi, tadi pagi di kampus, aq liat sampah yang udah dipilah (yang dapat membusuk dan tidak dapat membusuk) dijadiin satu lagi ama tukang sampahnya. Berarti gak guna donk, usaha kita memilah sampah jika ujung2nya kayak gitu.

    Balas
  • 17. Rani  |  Maret 4, 2008 pukul 3:24 pm

    menanggapi komentar dari mba Cynanthia,
    anti plastic bag campaign, bukan berarti kampanye yang menyerukan untuk mengganti kantong plstik dengan kantong kertas yang membabat pohon. dalam anti plastic bag campaign ini diberikan solusi untuk membawa tas belanja sendiri, bisa dari bahan tisu ataupun kain yang portable dan long lasting. jadi saat habis berbelanja, bisa kan kita menyuarakan no plastic bag, i bring my own bag. dengan begitu kita mengurangi penggunaan kantong plastik. paper bag pun sebenarnya juga bisa digunakan, yaitu dengan memakai paper bag recycle dari kertas yang sudah tidak dipakai atau pun kemasan minuman kotak. memang acara lingkungan susah sekali untuk ‘kena’ ke masyarakat. tapi apa salahnya untuk mengingatkan sehari saja kepada masyarakat dan berharap mereka menyadari betapa pentingnya mengurangi penggunaan plastik, walaupun sedikit.
    terimakasih

    Balas
  • 18. Tazkiaturrizki  |  April 1, 2008 pukul 10:48 pm

    Buat yang belum sadar betapa buruknya lingkungan kita..Ayo cepet sadar!!!Jangan cUma takut dimulut n hati lewat kata-kata….Tapi mulai dari hal yang kecil dulu..Jaga bumi kita dari kehancuran….Mulailah dengan menanam pohon karena global warming makin serem aje….Buang sampah pada tempatnya,,tapi jangan lupa dipilah,,smoga aja dengan ga buang sampah sembarangan banjir ga semakin menjadi-jadi….
    Pokonya,,KEEP OUR EARTH SOON!!!
    —-aQ ingin masuk t.Lingkungan nehh,,,TPB yang menegangkan…FTSL07ITB—-

    Balas
  • 19. MK  |  Desember 19, 2009 pukul 11:17 am

    wahai saudaraku…kita tukeran link yuk ?? http://pecintabumiandstopglobalwarming.blogspot.com/
    blog khusus pecinta bumi dan stop global warming

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: