Siapa yang Mengejek Dia yang Dianggap Jahat

Maret 2, 2008 at 1:54 pm 6 komentar

–Langsung aja gak perlu pake puisi pembuka–

Nampaknya perilaku manusia semakin lama semakin bebas dan berani. Mungkin dikarenakan dengan semakin banyaknya cara untuk berekspresi yang bisa menembus celah diantara norma-norma yang berlaku sehingga menimbulkan suatu pergeseran perilaku sosial di masyarakat.

Salah satu yang menarik adalah perilaku mengejek dan menghina sesuatu yang dianggap tidak disukai bahkan dibenci. Perilaku ini semakin menjadi-jadi saja terutama yang terjadi di dunia maya ini. Orang-orang bisa bebas berkomentar tanpa diketahui identitas dan jati dirinya, hal itulah yang menyebabkan berbagai tulisan di dunia maya ini lebih berani dan “pedas” dibanding yang terdapat dari sumber lainnya.

Sikap saling ejek nampaknya cukup seru dan sering terjadi di dunia blog. Kita ambil beberapa contoh saja, misalnya sikap saling ejek sesama pengendara motor (bikers) yang terlalu membanggakan motor tunggangannya terdapat di Kafemotor, dan Indobikers. Kemudian muncul fenomena band kampungan bernama KANGEN BAND yang mengundang sejuta kebencian orang dan pastinya sejuta simpati penggemarnya. Dapat dipastikan bagaimana serunya kedua kelompok orang ini (penggemar dan pembenci Kangen Band) saling berseteru di forum atau blog. Dan masih banyak contoh lainnya lagi tentunya.

Topik yang sedang hangat untuk didebatkan sekarang ini adalah mengenai perfilman nasional kita, mulai dari sinetron hingga layer lebar. Sudah banyak orang yang menyatakan bahwa film-film Indonesia itu “murahan” dan tidak mendidik, tapi banyak juga orang malah berpendapat sebaliknya, memuji dan mendukung dengan tulus perfilman Indonesia yang tidak maju-maju ini.

Jujur saja dari semua fenomena saling mengejek yang ada belakangan ini saya lebih sering memposisikan diri saya menjadi pengkritik dan pengejek ketimbang menjadi pembela. Kecuali mungkin satu hal, yaitu saya selalu membela kehebatan motor HONDA di salah satu blog motor yang rata-rata pengunjungnya benci sama HONDA. Setelah cukup sering mengirim komentar atau bahkan postingan yang mengejek sesuatu maka saya merasa ada sesuatu yang kurang adil terjadi di dunia ini…. Apa itu ???

Yaitu adalah Bila kita mengejek maka kita akan dianggap sebagai orang bodoh, tak berpendidikan, iri hati, dan sok tahu. Ya… itulah yang saya rasakan dari berbagai komen pihak pembela, misalnya di sini, di sini dan di sini. Dari contoh tadi jelaslah bahwa para pihak pembela itu secara tidak langsung menyatakan bahwa mereka adalah kaum yang intelek, cerdas, beretika, nasionalis dan baik hati.

Saya ingin bertanya kepada orang-orang yang katanya “hanya bisa melihat sesuatu dari segi positifnya saja”, apakah memang benar kalian orang yang cerdas ?? Kalau kalian cerdas kenapa kalian tidak bisa melihat dan mengungkapkan segi negatif dari suatu hal ? Apakah kalian takut dan tidak bisa mengkritik ?

Seharusnya para pihak pembela tadi yang menyatakan diri mereka beretika bisa menghargai pendapat orang lain yang bertentangan dengan pemikirannya, bukan malah men-judge para pengkritik dan pengejek tadi sebagai orang yang bodoh dan tidak beretika apalagi iri dan sok tahu.

Kita hidup di negara demokratis dimana pendapat bisa diungkapkan sebebas-bebasnya, apalagi kini dengan didukung kekuatan dunia maya yang lebih bebas lagi. Sudah saatnya kita bisa berdiskusi dan berdebat dengan cara yang lebih elegan.

Terima kasih😀

Entry filed under: Aneh-Aneh, Manusia, pengalaman pribadi, sosial. Tags: .

Alasan Mengapa Saya Bertindak Salah Cedera Paling Sadis dan Mengerikan dalam Sepakbola

6 Komentar Add your own

  • 1. Lockon Stratos a.k.a. Tendo Soji  |  Maret 2, 2008 pukul 5:39 pm

    Dan kadang siapa yang meminta haknya, dia yang dianggap jahat…

    Balas
  • 2. StreetPunk  |  Maret 3, 2008 pukul 9:09 am

    Supaya bisa berdiskusi secara elegan, kayaknya yang perlu diperhatikan di sini adalah cara mengejeknya.😉 Kalau mengejek dengan kata-kata tidak senonoh, dengan menertawakan atau bahkan memparodikan, barang tentu respon yang dilancarkan sisi pembela pun akan amburadul juga karena emosi mereka terpancing oleh sikap seperti itu. Akan tetapi, kalau mengejek secara lebih profesional, misalnya dengan menyindir secara halus, mungkin sikap pihak pembela akan lebih baik dan mampu berpikir lebih terbuka.

    Saya sendiri kalau mau mengejek tergantung sikon dan mood.:mrgreen:

    ================================================================================================
    reply: Lha, bukannya para pihak pembela itu kan orang2 yang intelek, cerdas, dan beretika… kenapa harus marah dan terpancing oleh para pengejek yang lebih bodoh dari mereka ???

    Balas
  • 3. rita  |  Maret 3, 2008 pukul 11:19 am

    tolong bedakan antara mengejek dengan mengkritisi.
    jika kita melihat sesuatu yang benar-benar tidak tepat, kemudian kita mengkritisinya dengan mengatakan sesuatu itu buruk, apakah juga dinamakan mengejek?

    ===========================================================================================
    reply: Yah namanya juga di internet atuh Mbak… Batas antara kritikan dan ejekan itu sudah kabur. Jadi di sini saya samakan saja keduanya… kalo anda kurang setuju coba Anda lihat2 lagi aja blog2 dan forum2 diskusi yg ada. Tapi jangan blog orang alim atau orang soleh yg diliatnya..😀

    Balas
  • 4. rumahkayubekas  |  Maret 4, 2008 pukul 8:24 pm

    Separah itukah? Sampai batas kritikan dan ejekan itu sudah kabur? Wah wah .. baru tau saya.
    Seharusnya kita masih bisa membedakan antara mengkritisi dan mengejek. Didunia maya sekalipun..

    Balas
  • 5. Sir Spitod  |  Maret 5, 2008 pukul 1:18 pm

    masalahnya itu kadang dalam penkomentar benar-benar cuma dua polar, yang melihat cuma sisi negatif dan cuma sisi positif. kalau dari komentar yang kita tonjolkan hanya sisi negatif dari yang kita lihat diantar komentar positif, maka kita akan dianggap troublemaker. Lebih baik sih menurut saya, dalam komen kita nyatakan dulu positif nya, lalu diikuti dengan negatif, biarorang tidak langsung emosi.

    Balas
  • 6. Ratna  |  Maret 12, 2008 pukul 6:50 pm

    Pernah baca hadits: “Berkatalah yang baik, atau diamlah”

    Sampaikan kritik yang membangun, bukan melecehkan apalagi membuat orang lain patah semangat dalam berkarya. Berkata pedas tidak harus menyakitkan atau melecehkan. Hati-hati dalam berkata, lidah lebih tajam daripada pedang. Ucapan yang menyakiti orang lain, selain dosa juga bisa menyulut permusuhan. Bahkan bisa sampai berbunuh-bunuhan.

    @ rumah kayu bekas
    saya setuju pendapat anda. Harus bisa membedakan antara mengkritisi dan mengejek.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: