KAMPUS HANYA UNTUK INDUSTRI

April 12, 2008 at 11:19 pm 8 komentar

Terinspirasi dari obrolan ringan dengan seorang SWASTA (Mahasiswa Tingkat Akhir) Elektro di Sekre HATI, Sunken Court, beberapa waktu lalu yang (mungkin karena sedang pusing mikirin TA) membicarakan tentang prospek-prospek kerja berbagai program studi yang ada di kampus ITB ini.

Entah ingin memuji ataukah memang benar-benar kenyataan lapangan, SWASTA tersebut mengatakan bahwa saya sangat beruntung masuk ke jurusan Teknik Material ITB. Dia mengatakan bahwa saat ini ilmu material sangat diperlukan di banyak industri baik itu skala kecil hingga internasional.

Saya pun tak lantas ge-er dan mengembangkan hidung mendengar kata-kata itu. Saya bertanya tentang alasan dari statement yang dinyatakan olehnya tadi.

Dia mengatakan bahwa ilmu yang paling berkembang dan potensial saat ini ada 3, yaitu; Elektro, Biologi, dan Material. Lalu dia dengan sedikit gaya bicara dosen mulai menerangkan bahwa salah satu concern bidang elektro saat ini yaitu menciptakan alat-alat yang berukuran sangat kecil, entah itu mikro, piko, atau nano. Untuk menciptakan alat-alat berukuran sangat kecil maka dalam pembuatannya haruslah bermain di tingkat atom, bahkan proton dan elektron. Maka dari itu untuk memindahkan dan merekayasa atom-atom tadi diperlukan bantuan protein yang merupakan bidang dari biologi. Yah kurang lebih dan salah benarnya seperti itu.

Khusus untuk Teknik Material, dia mengatakan bahwa saat ini juga perkembangan dunia elektro cukup bergantung pada penemuan-penemuan di bidang material. Contohnya, adalah penemuan bahan isolator dengan konduktivitas mencapai 0 (nol) yang nantinya bisa dipakai untuk melindungi kinerja superkonduktor yang akan dipakai untuk membuat prosesor super cepat. Perlu diketahui bahwa superkonduktor saat ini hanya bisa bekerja pada suhu sekitar -20 derajat Celcius, jauh dari suhu ruangan, 25 derajat Celcius.

Pada akhirnya dia menyimpulkan bahwa Teknik Elektro, Biologi, dan Material memiliki masa depan yang cerah karena ilmunya sangat diperlukan oleh bidang industri-industri saat ini.

Lalu saya nyeletuk nanya, “Kak kalo Astronomi nanti kerja di industri kaya apa ya?” (Maaf bukan maksud mengejek suatu prodi tertentu).

SWASTA itu pun menjawab bahwa saat ini bidang Astronomi prospeknya tidak baik khususnya di Indonesia. Kenapa ? Karena prioritas dan pandangan Perguruan Tinggi di Indonesia saat ini hanya menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang dibutuhkan oleh industri. Dengan kata lain bila industri banyak membuka permintaan akan suatu ahli bidang tertentu maka perguruan tinggi-pun akan membuka program studi atau jurusan yang dimaksud.

Lalu sekarang permasalahannya, apakah ada industri di Indonesia yang bisa menampung lulusan Astronomi? Saya rasa hal itu belum ada. Hal ini sangatlah berbeda dengan kenyataan yang terjadi di luar negeri dimana ilmu-ilmu science mendapatkan tempat terhormat walaupun tidak berhubungan langsung dengan industri.

Kita ambil contoh, pada tahun 2007 lalu saat dilakukan penelitian tentang keabsahan PLUTO sebagai salah satu planet tata surya kita, coba bayangkan berapa juta US$ yang dikeluarkan untuk meneliti hal tersebut. Lalu coba kita pikirkan kembali, apakah hasil dari penelitian ini akan berpengaruh pada bidang industri ??? Saya kira industri tak mau tahu tentang masalah PLUTO yang nun jauh di sana. Tapi di sinilah kehebatan dan kekuatan dari science, dimana tempat kita untuk bertanya, meneliti, berfikir dan berdiskusi tentang rahasia-rahasia yang ada di alam ini.

Industry-Oriented yang diterapkan hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia telah menyebabkan hilangnya fungsi kampus sebagai tempat bertanya “mengapa” dan “bagaimana”. Tak ada lagi semangat untuk memahami dan mempelajari berbagai fenomena dan rahasia alam sebagai bentuk dari sikap ilmiah dan ibadah kepada Tuhan Y.M.E.

Entry filed under: kuliah, Manusia, sosial. Tags: .

Kepengen Nikahin Anak Bill Gates PENTINGNYA SEBUAH ILMU MATERIAL

8 Komentar Add your own

  • 1. spitod  |  April 13, 2008 pukul 9:19 pm

    Tetapi, masalah-nya juga kondisi indonesia yang masih belum memungkinkan untuk berkonsentrasi pada ilmu yang murni.
    Dia saat penuh krisis ini, indonesia sangat membutuhkan perbaikan ekonomi, sosial, dll. Para sarjana diharapkan dapat menggiatkan industri, menyembuhkan ekonomi. Lalu dari ekonomi, sosial juga akan membaik, terus diharapkan merambat kebaikannya, walau tidak sesederhana itu. Karena itu para mahasiswa diajarkan ilmu terapan, agar diharapkan dapat membangun masyarakat (salah satunya lewat industri).
    Apa bila keadaan indonesia sudah lebih mapan, barulah para ilmuwan bisa mengejar ilmu-ilmu yang lebih murni.
    Kalau sekarang, indonesia mengeluarkan jutaan dolar untuk meneneliti Pluto, maka saya harus katakan bahwa itu pengeluaran yang tidak tepat. Tapi kalau indonesia sudah adidaya, itu adalah pengeluaran yang bisa diterimal.

    Balas
  • 2. azkaa,,  |  April 17, 2008 pukul 8:30 pm

    *lirik komen spitod*; setuju.. makanya pur.. udah, ganti jurusan ajah.. nah lho, hhe.. ga denk..

    saya sih milih manajemen karena otaknya gak nyampe sesuai cita-cita..

    oia, kalo jurusan ‘industri’ kayak gitu orientasinya untuk jadi pegawai apa tetep buka peluang wirausaha sih pur? *nanya serius*

    Balas
  • 3. Purmana  |  April 17, 2008 pukul 9:58 pm

    @ Spitod

    Oke… oke. Saya terima pendapat Antum, tapi coba pikirkan dampak bagi kelanjutan dunia Industri kita. Dimana riset2 sangat minim, dan akhirnya industri kita yang malah ketinggalan.

    Ambil contoh, sekarang Indonesia belum bisa memiliki katalis yang sangat penting bagi proses2 reaksi industri. Katalis2 yg dipakai Industri saat ini diimpor dari luar semuanya. Dan nampaknya sangat sedikit tanda2 Indonesia mengembangkan katalis sendiri atau minimal meneliti katalis produk luar tersebut. Kendalanya klasik, masalah biaya untuk riset.

    Jadi maksud saya di sini adalah, saya takut nantinya haluan pendidikan kampus melenceng terlalu jauh dari tujuan dan tri dharma pergeuruan tingginya (pasti dah hapal kan).

    @ azkaa

    Ganti jurusan…..???
    Kayaknya ilmu dan teknik Material cukup cocok dengan saya. Dan lagi melihat para teman2 yg dah lulus dari jurusan material, saya merasa cukup yakin dengan masa depan saya…. Ya asal rajin belajar asa sih😀

    Kalo mengenai orientasi jurusan “industri” yg Antum maksud. Menurut saya sih hal itu tergantung dari pribadi setiap orangnya. Di Kampus saya sih gak ada jaminan “LULUS PASTI DAPET KERJA” kaya di kampus lain. Jadi setelah lulus maka jalan hidup ditentukan sendiri-sendiri.

    Tapi yang saya tangkap dari beberapa pengalaman para alumni sih. Jalan yg kita tempuh setelah lulus ditentukan oleh hal2 diluar kuliah. Saat orang itu banyak menghabiskan waktu untuk mempelajari enterpreneurship maka kesempatan berwira usaha cukup besar. Lalu kalo orang itu cenderung deket2 terus ama dosen lalu sering bantu2 proyek, maka orang itu biasanya direkrut oleh perusahaan, atau dia melanjutkan kuliah S2.

    Jadi gitcu loh….

    Balas
  • 4. azkaa,,  |  April 17, 2008 pukul 11:35 pm

    hooo… *manggut-manggut* makasih ya penjelasannya..

    iya saya tau jurusan material insyaAllah yang terbaik buat seorang geowana yuka purmana.. becanda aja tadi..🙂

    nah, kalo purmana sendiri punya cita-cita apa ke depannya? langsung lanjut S2, ngelamar kerja, punya perusahaan sendiri, atau…?

    ga ada maksud apa-apa kok, cuma pengen diskusi aja.. ^^

    Balas
  • 5. hafidzi  |  April 18, 2008 pukul 10:20 pm

    kalo industrinya bermanfaat bagi negara boleh ngga ya>? misalnya aja ada yang ngelakuin riset mo bikin nuklir, tapi sembunyi2,…boleh ngga ya? hehehe
    nice blog,
    slm knl

    Balas
  • 6. anbarsanti  |  April 22, 2008 pukul 5:29 am

    sy gak nangkep apa hubungan proton elektron dengan protein.

    yang sy tau sih, jika memang nano teknologi yg akan maju, maka fisikalah yang dibutuhkan, bukan biologi. biologi memang berprospek, bukan di bidang nanoteknologi, tapi dalam pencarian sumber makanan baru dan mikrobiologi.

    *Ha9, ya udah sy mau masuk elektro aja ah*

    Balas
  • 7. purmana  |  April 28, 2008 pukul 7:40 pm

    @ 6

    Begini ya….
    Apa bedanya penggabungan secara mekanis/fisika dengan penggabungan secara biologi. Nah menurut yg saya dapat proses penggabungan secara biologi lah yang paling efisien.

    Kalo untuk elektron nantinya gini, sewaktu kita mau memindahkan suatu elektron antar atom maka kita menggunakan jasa protein sebagai pengantarnya. Kalo mau lebih jelasnya sih tanyain aja ke anak elektro…. Kan ane juga cuma dibilangin doang.

    Balas
  • 8. fahma  |  Juni 20, 2008 pukul 11:46 am

    apa iya c..
    ilmu yg pling dibutuhkn saat ini material en elektro..?

    klu mslh prospek kerja mah tiap org pny rejekinya masing2..
    hehe..

    klu informatika dan industri??
    gmn menurutmu..

    tp blogmu keren..
    slm kenal..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: