Harga Diri dan Malu

Juni 26, 2008 at 1:57 pm 2 komentar

Harga diri dan malu adalah serangkai. Karena orang yang sadar akan harga diri, niscaya akan timbul rasa malu jika melakukan hal yang tidak semestinya. Di sisi lain, orang malu tentu mengerti akan arti dari harga diri dan dalam agama sudah jelas bahwa malu merupakan bagian daripada iman.

Pada zaman Khalifah Umar bin Khatab ra., ada seorang pembunih yang menyerahkan diri minta diadili, karena telah membunuh sesama muslim. Setelah diadili, jatuhlah vonis berupa hukum qisas. Khalifah menanyakan apa permohonan terhukum sebelum di-qisas ?

Si terhukum menyampaikan permohonan untuk kembali ke kampung halamannya demi pamitan kepada kedua orang-tuanya, serta menyelesaikan amanah dan membayar seluruh hutang-hutangnya. Permohonan tersebut dikabulkan asalkan harus adanya badal (orang yang menjamin) sebagai antisipasi bila si pembunuh ini kabur. Bila dalam waktu satu minggu terhitung saat itu juga si terhukum belum kembali ke tempat pengadilan maka si badal inilah yang akan di-qisas.

Permasalahannya kini siapa yang mau menjadi badal, si terhukum tak memiliki sanak keluarga di kota tersebut. Dari kerumunan orang keluarlah seorang lelaki dan berkata, “Saya siap menjadi badal.” Orang ini tak lain adalah sahabat Rasulullah saw yang bernama : Abi Dzar al-Ghifari.

Penandatanganan dan penyaksian telah lengkap dan si terhukum dapat meninggalkan kota tersebut untuk kembali ke kampung halamannya selama satu minggu. Namun apa yang dikhawatirkan banyak pihak kian menjadi kenyataan di saat tiba hari dijatuhkannya hukuman. Si terhukum belum juga menampakkan diri di depan pengadilan. Orang berkerumun, banyak yang menangis terisak-isak melihat seorang sahabat Rasulullah saw duduk di majlis qisas siap untuk dipenggal lehernya sebagai badal. Algojo pun telah siap dengan pedang panjangnya yang tajam terhunus dan berkilau mamantulkan cahaya matahari siang itu.

Tiba-tiba dari kejauhan terlihatlah debu beterbangan, si terhukum tiba di depan majlis qisas dengan wajah letih serta baju dan rambutnya kusut. Seraya bertakbir, yang langsung diikuti orang banyak, si terhukum menghadap. Abu Dzar pun dibebaskan. Saat itulah si terhukum ditanya, “Mengapa Anda kembali ke kota ini, padahal anda memiliki kesempatan besar untuk melarikan diri ?”

Sungguh mengagetkan jawaban dari si terhukum. “Memang saya bisa melarika diri dan bebas dari hukuman ini, tapi saya malu jika nanti tergores dalam sejarah bahwa pernah ada seorang Muslim ingkar janji untuk kepentingan dirinya, dan sebaliknya tidak mau menjaga diri sebagai Muslim.”

Di majlis tersebut hadir pula tiga putera dari orang yang terbunuh. Mendengar pengakuan yang tulus dari si terhukum, maka para putera orang yang terbunuh itu pun kemudian membatalkan tuntutan kepada si terhukum. Maka batallah hukuman hari itu dan si terhukum dinyatakan bebas murni !

Saat itulah Abu Dzar ditanya, “Kenapa Engkau mau menjadi badal orang ini, padahal engkau tidak tahu-menahu identitas orang ini (si terhukum) ?”

“Sebagai Muslim yang punya harga diri, saya akan merasa malu jika dalam sejarah nanti tergores bahwa ada suatu kejadian seorang Muslim meminta jaminan di tengah saudaranya sesama Muslim tapi tak ada seorang pun dari mereka yang mau menolongnya !”

Kemudian ditanya pula ketiga putra dari orang yang terbunuh, “Mengapa kalian dengan mudah memaafkan pembunuh ayah kalian dan mencabut tuntutan atas diri orang ini ?”

“Kami pun sebagai Muslim yang punya harga diri akan sangat malu, jika nanti tergores dalam sejarah ada orang Muslim yang tidak mau memaafkan kesalahan saudaranya sendiri.” Demikian jawab mereka.

Subhanallah ! Ternyata mereka semua menjawab sama. Abu Dzar, si terhukum dan ahli waris beralasan karena mereka masih punya rasa malu dan harga diri sebagai seorang Muslim. Betapa indahnya hidup ini jika setiap orang masih memiliki harga diri dan malu.

Al-Haya’u minal imaan. Bahwa malu itu adalah sebagian dari iman.

Entry filed under: Aneh-Aneh, Cinta, Manusia, Sejarah, sosial. Tags: .

Apa Tipe Kepribadian Saya Islam Adalah Ideologi

2 Komentar Add your own

  • 1. rani!  |  Juni 26, 2008 pukul 7:04 pm

    jawabnya disini aja yaa..
    meuni ga ada tempat buat yang oot…

    sampai detik ini (kamis, pk.19.03), insya Allah ikut..
    nah ga tau ya kalo besok, atau besoknya lagi, tiba2 ada acara lain…
    emang yang mana toh orangnya? kenalan dulu😀

    Balas
  • 2. agung mustofa  |  Juli 24, 2008 pukul 12:08 pm

    jagalah harga diri mu.. jagalah ke maluanmu. jagalah iman mu itu..

    kalau uda gitu pasti tenang hatimu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

RSS Berita Bola

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Arsip


%d blogger menyukai ini: