Catalytic Converter dan Pencemaran Udara

Oktober 16, 2007

Isu global warming semakin banyak diperbincangkan oleh banyak mulut. Baik itu keluar dari mulut pelajar, mahasiswa, guru, dosen, peneliti bahkan dari mulut besarnya para politikus.

Rata-rata semua pendapat dan tulisan mengenai global warming hanya membahas masalah dan masalah melulu. Kalaupun ada solusi kebanyakan berupa solusi “Anak SD”, maksudnya solusi yang sudah semua orang tahu misalnya kurangi pemakaian kendaraan bermotor, pakailah pendingin tanpa CFC, jangan tebang pepohonan dan lain-lain. Itu semua saya yakin sudah dihafal oleh seluruh pelaku pencemaran udara. Mengapa tidak kita coba membuat sesuatu solusi yang lebih mengarah pada teknik?? Saya yakin solusi seperti itu akan lebih memberikan dampak nyata pada perubahan lingkungan.

Oleh karena itu semua, pada kesempatan kali ini saya ingin mencoba menjelaskan tentang catalytic converter, sebagai teknologi untuk mengurangi emisi gas-gas berbahaya dari mesin mobil atau motor.

Catalytic Converter, pertama kali ditemukan tahun 1975 di Amerika Serikat. Alat ini dibuat demi memenuhi standar emisi gas buang yang sangat ketat di negara tersebut. Singkatnya Catalytic Converter ini adalah alat yang akan mereaksikan gas-gas buang yang berbahaya melalui reaksi kimia sehingga nantinya gas-gas tersebut akan berubah menjadi gas yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Atau minimal menjadi gas yang tidak terlalu berbahaya.

Saat ini Catalytic Converter telah digunakan di banyak mesin-mesin mobil dan motor, bahkan beberapa motor bebek yang nobatene motor murah sudah memasang teknologi ini.

Ada dua tipe dari Catalytic Converter, yaitu 3-way Catalist dan 2-way Catalyst. 3-way Catalist digunakan pada mesin mobil dan motor yang menggunakan bahan bakar bensin (Premium, dsb.). Ada tiga tahap dalam proses ini yaitu :

  1. Reduksi Nitrogen Oksida menjadi nitrogen dan Oksigen : 2NOx → xO2+N2
  2. Oksidasi Carbon Monoksida menjadi Karbon Dioksida : 2CO + O2 → 2CO2
  3. Oksidasi senyawa Hidrokarbon yang tak terbakar (HC) menjadi Karbon Dioksida dan air : 2CxHy + (2x+y/2)O→ 2xCO2 + yH2O

Reaksi-reaksi di atas akan berjalan efisien bila mesin bekerja dengan  perbandingan 14,7 bagian udara dengan 1 bagian bahan bakar.

Sedangkan 2-way Catalist digunakan pada mesin diesel. Karena pada daur Mesin Diesel tidak dihasilkan Nitrogen Oksida (NOx), maka daur yang terjadi hanyalah daur nomor 2 dan 3 saja.

Catalytic Converter sangat peka terhadap logam-logam lain yang biasanya terkandung dalam bensin ataupun solar misalnya timbal pada premium, belerang pada solar, lalu seng, mangan, fosfor, silikon, dsb. Logam-logam tersebut bisa merusak komponen dari Catalytic Converter. Oleh karena itu teknologi ini tidak bisa digunakan di semua daerah terutama daerah yang premiumnya belum diganti oleh Premium TT (Tanpa Timbal).

Bagaimanapun teknologi Catalytic Converter yang telah diciptakan oleh para engineer ini telah memberikan kontribusi nyata terhadap usaha menekan polusi udara yang juga akan berdampak pada isu pemanasan global.

Sebagai pesan untuk generasi muda mari kita belajar dengan sungguh-sungguh bila ingin berbuat sesuatu terhadap dunia ini. Semua itu ada ilmunya coy!!

sumber gambar di sini

Entry Filed under: IPTEK, Lingkungan, Otomotif. .

23 Comments Add your own

  • 1. Erin  |  Oktober 17, 2007 at 8:40 am

    Wah, ternyata si om purmana ini lebih senang berpikir ilmiah dalam menyelesaikan masalah. Tapi saya setuju dengan cara berpikir anda bahwa masalah global warming ini dapat diselesaikan dengan ilmu pengetahuan yang tinggi

  • 2. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Oktober 17, 2007 at 4:08 pm

    Rata-rata semua pendapat dan tulisan mengenai global warming hanya membahas masalah dan masalah melulu. Kalaupun ada solusi kebanyakan berupa solusi “Anak SD”,

    Makanya soal beginian tidak perlu pakai solusi. Kalau masalahnya sudah stereotip, cukup pakai suara persuasif saja. :lol:

  • 3. purmana  |  Oktober 17, 2007 at 4:23 pm

    [at] DB

    Tinggal persuasif saja…..???
    Apa lagi yang mau dipersuasifkan bro??? Ajakan2 yang biasa dikumandangkan di seluruh dunia tentang pemeliharaan lingkungan sampai saat ini hanya memberikan dampak yang kecil.

    Semua orang berdemo agar para pembakar hutan di Kalimantan ditangkap, agar para pemilik pabrik tidak membuang limbah ke sungai, dan lain sebagainya…. Tapi kenyataannya???? Hutan malah semakin cepat dibabat dan sungai makin kotor.

    Sudah saatnya kita mencari cara yang lebih ‘elegan’ dalam menyelesaikan berbagai masalah.

  • 4. Global Warming and Destru&hellip  |  Oktober 17, 2007 at 6:21 pm

    [...] Catalytic Converter dan Pencemaran Udara [...]

  • 5. almirza  |  Oktober 17, 2007 at 7:33 pm

    Apa lagi yang mau dipersuasifkan bro??? Ajakan2 yang biasa dikumandangkan di seluruh dunia tentang pemeliharaan lingkungan sampai saat ini hanya memberikan dampak yang kecil

    Nah itulah maksudnya
    apapun usahanya kerusakan itu akan tetap berjalan terus
    tapi cara apapun tetap lebih bermakna ketimbang tidak berusaha

  • 6. Selamatkan Bumi Tercinta &hellip  |  Oktober 17, 2007 at 7:42 pm

    [...] Datang Di Kalimantan • Katakan Tidak Pada Plastik Swalayan • Dogol Bicara Krisis Energi • Catalytic Converter dan Pencemaran Udara • Sesendok Madu untuk Lingkungan • Matematika Menduga Penyebab Rusaknya [...]

  • 7. purmana  |  Oktober 17, 2007 at 8:03 pm

    [at] 5
    Yo’i…. :D

    nah inilah perbedaan sifat2 manusia; ada yang selalu sabar berusaha walaupun hasilnya sedikit-sedikit, ada yang yang tidak sabaran dalam usaha, ada yang selalu mencari jalan keluar yang berbeda dengan khalayak, dsb.

    Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan, maka dari itu kita harus bisa bersatu.

  • 8. caplang™  |  Oktober 18, 2007 at 9:56 am

    motor saya udah ada alat untuk Euro-II nya
    karena ilmu tehnik saya terbatas
    sekarang cuman bisa jadi pengguna :lol:

  • 9. wyren  |  Oktober 19, 2007 at 8:34 pm

    Udah, kalo konsumen gak usah terlalu mikir… Biar insinyur aja yang mikir (egois, tapi itu kenyataan….).. Konsumen tinggal beli aja, insinyur tinggal mikir konsumen minta apa… Sekarang udah berkembang aerodinamika tingkat tinggi (untuk fuel efficiency), hybrid, hydrogen/ electric car, en kendaraan tenaga udara… Ini otomotif…

  • 10. purmana  |  Oktober 20, 2007 at 8:11 am

    [at] Wyren

    Nah itu adalah pemikiran yang kurang tepat, kita sebagai generasi muda harus bisa mengusai teknologi yang ada. Karena suatu saat nanti kitalah yang akan menggantikan para scientist dan engineer yang udah pada tua dan botak tersebut :D

    Kalau kita tidak bisa menguasai hal-hal tersebut maka setelah para scientist dan engineer senior tadi wafat maka sulit untuk melanjutkan berbagai perkembangan dan bukan kemajuan yang didapat bangsa ini.

    Walaupun susah, tak ada salahnya kita belajar dan mencoba memahami berbagai hukum alam yang terjadi di dunia ini.

  • 11. wyren  |  Oktober 20, 2007 at 5:52 pm

    Hehehe, sebagaimana gw juga calon engineer :-D

    Gw sih udah tenang2 aja masalah begonoh… Kan gw cuma menyarankan sama bukan calon2 engineer gak usah terlalu mikir masalah ginian, nanti botak loh masak suruh mikir masalah yang gak nyambung basic ilmunya?? Hehehehe…. Gw suruh mikir akuntansi juga bakal botak kali :-D … Emang pekerjaan cuma engineer?? Tapi kan ada spesialisasi masing2 job.. Gitu maksud saya…

    Tapi situ kan juga calon engineer… Banyak2 nonton discovery channel deh.. How do they do it, how’s it made, extreme engineering, building the future…. Untuk brainstorming aja :-D

  • 12. Mihael "D.B." Ellinsworth  |  Oktober 22, 2007 at 2:07 pm

    Sudah saatnya kita mencari cara yang lebih ‘elegan’ dalam menyelesaikan berbagai masalah.

    Kalau saya tahu caranya, saya sudah lakukan. Tapi melempar - lemparkan masalah bukan menyelesaikan masalah….

  • 13. purmana  |  Oktober 22, 2007 at 7:35 pm

    [at] 12; DB

    Eh dah liat tulisan2 tentang blog action day yang dari luar negeri belom?? Saya pernah baca tentang cara komputasi atau pemrograman untuk memantau kualitas polusi udara dan air (saya gak catet link-nya, jadi lupa…). Nah seperti itulah mungkin yang saya maksud ‘elegan’.

  • 14. lukman  |  Nopember 15, 2007 at 7:23 pm

    duh pa saya yg salah informasi ya!!!!!
    yg gw tau catalic itu ditemukan di jepang sana!!!!
    saya lupa namanya, habis namanya susah di ingat….
    waktu itu dy pernah presentasi temuanya itu di kampus saya,

    oya sedikit tambahan, bagi pemilik mobil yang sudah memakai tehnologi ini, harap pada saat anda lakukan tun up di bengkel jangan memakai prodak SEC (super engine cliner).
    yang akan menyebabkan gangguan pembuangan.

  • 15. bengkelsepedamotor  |  Nopember 19, 2007 at 7:21 am

    Saat ini Catalytic Converter telah digunakan di banyak mesin-mesin mobil dan motor, bahkan beberapa motor bebek yang nobatene motor murah sudah memasang teknologi ini.

    ???

    Boleh tanya MEREK dan MODEL motor bebek (motor murah) yang menggunakan “Catalytic Converter”

    salam,
    bengkelsepedamotor

  • 16. ainghanif  |  Nopember 21, 2007 at 2:48 pm

    iseng banget sie nulis reaksi kimia..
    ahaha

  • 17. braven  |  Desember 4, 2007 at 1:34 pm

    gw braven.!!

    mechanical engineering ITB 2007.!!

    hidup mesin..

    kami sebagai calon engineer bakal berinovasi terus menerus untuk menghasilkan teknologi yang lebih baik..!!

    terus berkarya&berinovasi untuk indonesia yang lebih baik.!

    hidup mechanical engineering.!

  • 18. purmana  |  Desember 4, 2007 at 9:46 pm

    @ 17

    Kamu kan sekelas kalkulus ma gw…

    HIDUP MATERIAL ENGINEERING ITB 2007 !!!

  • 19. enrico  |  Desember 13, 2007 at 11:46 am

    memang masalah kualitas bbm menjadi kendala bagi fungsi alat ini, secara di pulau gw (Kalimantan) katanya belum ada bensin bebas timbal, bensinpun kadang ada kadang nggak ada.

    tapi kasian di Jawa katanya premium mau diganti semua dengan pertamax ya?? emang berapa sih pertamax disana?

  • 20. Bendi  |  Januari 2, 2008 at 11:49 am

    Thanks ya aku copy bwt tugas sekolah gw

  • 21. teddy  |  Januari 8, 2008 at 7:50 am

    permisi numpang isi comment

    hidup mahasiswa teknik mesin seluruh indonesia

    masalah catalytic converter di indonesia euro emission 2 sudah terlalu telat buat diterapkan. sedangkan di negara maju telah menggunakan euro emission 4,5, bahkan 6. memang telah disengaja oleh para mafia automobile di indonesia itu tidak menggunakan catalytic converter. selain harganya yang mahal juga maintenance juga mahal.
    mungkin solusi saya sekarang untuk mengatasi global warming yang nantinya akan berdampak besar untuk daerah yang dilalui garis khatulistiwa. intinya konsistensi pemerintah RI. kami yang basicnya mahasiswa akan mencoba untuk memanfaatkan teknologi yang ada dan menyempurnakanya.

    mohon bantuannya untuk yang mempunyai artikel tentang catalytic converter.

    hidup D3 MESIN ITS

  • 22. amelia  |  Januari 25, 2008 at 12:26 pm

    emang ada..cara komputasi atau pemrograman untuk memantau kualitas polusi udara,,setahu gw,,AEOLIUS (buat emisi tidak bergerak)..& Caline4 (buat emisi bergerak)..caline4 khusus buat pencemar gas karbon monoksida (CO)
    udh low end,,
    gw udh pernah nyoba..pake program Caline4 untuk pemodelan beban pencemaran gas karbon monoksida (CO),,tapi outputnya error mulu’,,tapi wktu di coba input in data ke komputer yg low end jg,,baru deh jalan programnya,,,
    jadi menurut gw, itu program udh gak bs dipakai lagi,,
    buat temen2 yg tau soal pemograman pemantau kualitas udara,,bagi2 info nya ya,,
    HIDUP TEKNIK..3X

  • 23. afina ray  |  Februari 23, 2008 at 11:25 am

    justru itu bro,
    kita dikasih solusi anak SD supaya semua orang, mulai dari kakek-nenek mbah-buyut ampe anak SD juga bisa ikut berperan. Yang kayak gitu mnurut gw akan lebih bermanfaat.

    tapi kayaknya lo gak update tentang global warming ya?

    peace maan.. O_o-V

    HEMAT LISTRIK, SELAMATKAN BUMI!!!!

    ==========================================================================================
    reply: Saya tidak menyebut solusi SD tersebut adalah solusi jelek. Saya hanya ingin mengingatkan kepada semua bahwa yang kita butuhkan saat ini adalah teknologi untuk menyelesaikan masalah lingkungan terlepas dari bisa tidaknya kita membuat teknologi tersebut. Kita tak bisa menyelesaikan masalah ini hanya dengan solusi-solusi SD tersebut… Solusi2 itu hanya bersifat sementara saja.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Sekilas Diriku

'Seorang manusia normal yang memiliki keinginan normal untuk menjadi orang yang tidak normal'

Yang Baru

Terlaris

Kata Mereka

RSS Berita Bola

Banner


Awas Nanti Kepala Bocor

Yang Seru

Kategori

Arsip

Pintu Gerbang